Dekonstruksi atas Spesialitas dan Siklus Linear Pergantian Tahun

bagaimana jika resolusi hanya dijadikan sebagai pelarian terhadap sesuatu yang tidak berhasil direalisasikan?

Tahun baru begitu spesial. Kita tak cuma menelusuri jejak 365 hari yang terlampaui demi melakukan refleksi, tapi sekaligus membuat harapan atas hal-hal yang sebelumnya tak bisa digapai dan dilalui. Di akhir tahun, pada 31 Desember, 365 hari itu dimetaforakan sebagai lembar-lembar halaman yang telah terbaca. Begitu banyak perjuangan, suka-duka, dan cerita yang berhasil diukir. Karenanya terdapat istilah “Page 365 of 365”. Istilah itu menandai lembar terakhir dari buku satu tahun (tentunya bukan tahun kabisat, yang isinya 366 hari) perjalanan. Semua itu adalah bentuk pengistimewaan terhadap pergantian tahun.

Di seluruh belahan dunia hari ini, sebagian besar manusia merayakan spesialitas (atau sebut saja keistimewaan) tahun baru. Mereka merayakannya dengan berbagai cara. Ada yang menggelar acara meriah dan menghabiskan dana besar-besaran, lalu ada yang cuma bakar-bakar, dan ada pula yang mencipta karya seperti membuat track record dalam setahun secara estetis. Bagi mereka yang hanya ikut-ikutan dan tak punya esensi atas pergantian tahun, mereka tetap merayakannya. Bahkan begitulah kebanyakan orang. Misalnya karena di malam tahun baru masih ada libur semester dan libur Nataru (Natal dan Tahun Baru), mereka jadi ikut merayakan tahun baru, sebab memang belum ada urgensi untuk mengerjakan rutinitas. Apalagi jika ada festival yang digelar, bisa-bisa orang yang masih kerja di hari akhir tahun pun akan menyempatkan diri untuk mengikuti festival tersebut. Lebih-lebih dengan kekuatan konvensional-kolektif, siapa saja bisa terbawa arus. Secara tak langsung mereka sudah ikut merayakannya.

Perayaan tahun baru dipelihara dengan konvensi sosial dari pemangku kebijakan yang mengatur rutinitas masyarakatnya. Kita mungkin sering mendengar kebijakan “Cuti bersama” atau “Libur tahun baru”. Kebijakan-kebijakan itulah yang mengatur mobilitas dan bentuk aktivitas masyarakat. Sehingga masyarakat bisa ditunjang untuk merayakan dan memberi makna pada tahun baru berdasarkan kebiasaan.

Mengacu pada interaksionisme simbolik Herbert Blumer, suatu makna akan menciptakan tindakan. Makna tentang tahun baru menghasilkan aktivitas yang ‘seharusnya’ dilakukan pada malam pergantian tahun. Makna tersebut berasal dari interaksi sosial dan pengalaman. Interaksi sosial dan pengalaman seseorang dibentuk dari kebiasaan yang dilakukan lingkungan sosialnya.

Pada dasarnya pergantian tahun hanya sebatas pergantian kalender. Waktu berjalan terus menerus secara linear. Detik demi detik silih berganti, tak ada yang memperingati. Lantas, mengapa pergantian tahun diperingati?

Perayaan Tahun Baru yang Bukan Merupakan Peristiwa Baru

Selain karena konvensi sosial, terdapat sisi historis yang menciptakan konstruksi sosial perayaan pergantian tahun. Manusia menciptakan kalender dengan merepresentasikan siklus alam. Mereka telah memberi arti pada siklus alam sejak dulu kala. Mereka dengan gegap gempita bergembira untuk menyambut datangnya siklus yang semula. Misalnya peringatan siklus banjir sungai Nil di Mesir Kuno sebelum 3000 SM. Dengan kondisi iklim yang gersang dan jarang terjadi hujan, banjir sungai Nil bisa menghilangkan dahaga masyarakat. Orang-orang Mesir Kuno akhirnya dapat memperkirakan kapan mereka bercocok tanam, memanen, dan menampung air dari sungai Nil. Begitulah seterusnya, sampai musim banjir kembali tiba. Pada perkembangannya muncul kalender solar, lunar, dan lunisolar yang lebih kompleks karena didasari pada pengamatan siklus benda langit.

Pergantian tahun menjadi penanda transisi antara habisnya pola musim yang satu dengan datangnya pola musim yang lain, yang sebenarnya hanyalah siklus. Siklus tersebut tentunya bukan dimengerti sebagai periode waktu yang terulang kembali, tapi kondisi ‘pergerakan’ alamnya sama, menyesuaikan dengan revolusi bumi atas matahari (untuk sistem kalender solar), sehingga berpengaruh pada siklus ‘pergerakan’ alam. Oleh karenanya siklus tersebut haruslah ditandai untuk melakukan pembatasan tentang kapan pola yang sama akan terjadi lagi. Lewat perayaan tahun baru inilah siklus tersebut ditandai. Perayaan tahun baru pun sama sekali tak baru, hanya siklus yang dirayakan secara repetitif tiap tahun. Akan tetapi dalam jangka waktu satu tahun, banyak hal yang bisa dilakukan—yang tentunya tidak bisa dilakukan dalam hitungan hari, apalagi detik. Sehingga manusia dari seluruh peradaban tak bosan-bosan untuk merayakan tahun baru.

Beragam Perayaan di Siklus yang Sama

Ketika siklus sudah dipahami dan mempunyai tolak ukur yang akurat—berdasarkan posisi bumi yang mengelilingi matahari—maka terciptalah sistem penanggalan. Salah satu kalender solar, yang dihitung dari revolusi bumi, adalah kalender Gregorian yang sekarang dipakai untuk menghitung tahun Masehi. Kalender Masehi diterima secara global karena menjadi kalender yang banyak dipakai. Meski siklus tahunnya sama, tapi tradisi merayakan pergantian tahun itu berbeda-beda, bergantung pada tradisi dari suatu budaya. Semisal tradisi memecahkan piring yang dilakukan malam tahun baru Masehi oleh masyarakat Denmark berbeda dengan tradisi penyambutan tahun baru Masehi dengan melakukan Misa tengah malam dan makan donat isi dalam festival Sylvester yang dilakukan masyarakat Jerman. Jadi bagaimana Anda merayakan tahun baru di tengah beragam tradisi supaya tetap terkesan spesial? Jawabannya bergantung pada bagaimana diri Anda memaknainya.

Lembaran Tahun: Apakah Sebatas Siklus?

Selama 365 hari, kita membentuk kisah yang kertasnya diciptakan oleh nenek moyang kita. Begitu pula setelah akhir tahun dan memasuki awal tahun. Kita akan menciptakan kisah pada 365 atau 366 halaman lagi. Dan seterusnya begitu. Alur kisahnya seperti Sisyphus yang mendorong batu sampai puncak gunung, tapi kemudian turun batunya, dan ia berusaha lagi untuk mendorongnya sampai puncak gunung.

Meski kalender berasal dari siklus alam, peristiwa yang terjadi belum tentu sama dari tahun ke tahun. Contohnya perayaan hari ulang tahun seseorang di tahun 2021 belum tentu sama kesannya dengan perayaan hari ulang tahun di tahun 2022. Pengalaman yang kita dapatkan tentu lebih kaya dari tahun ke tahun. Yang terpenting dari sistem tahun adalah peranannya sebagai penanda yang dapat dijadikan alat untuk melihat perkembangan dari apa pun. Oleh sebab itu tak sedikit manusia yang mencari harapan di akhir tahun untuk dapat direalisasikan di tahun yang baru. Inilah yang biasanya disebut sebagai resolusi.

Fantasi Resolusi dan yang “Nanti-nanti”

Resolusi memang dapat menciptakan motivasi dalam diri. Sebab di balik resolusi terdapat hasrat yang menggerakkan. Namun bagaimana jika resolusi hanya dijadikan sebagai pelarian terhadap sesuatu yang tidak berhasil direalisasikan? Atau bagaimana dengan kasus orang yang menunda-nunda pekerjaan hanya karena dia memiliki pola pikir bahwa 2023 habisnya masih lama? Resolusi dapat menjadi fantasi semata.

Ketika resolusi tidak terealisasi padahal lembaran tahun hampir usai, maka dapat lahir kekecewaan atas diri, dan akan dialihkan dengan resolusi lain yang diharapkan bisa terealisasi di tahun depannya lagi. Seperti seorang penulis yang berjanji ia ingin menulis buku di tahun 2023 pada akhir tahun 2022. Namun resolusinya tak kesampaian hingga penghujung tahun 2023. Bukannya malah bergegas untuk menyelesaikan resolusi yang sebelumnya ia harapkan kendati telat, penulis tersebut malah membuat resolusi menulis buku lain di tahun 2024. Jika perilaku seperti itu dijaga, maka pekerjaannya akan susah selesai. Tuntutan atas dirinya hanya menjadi pemuas hasrat saja. Ia akan terus bernanti-nanti dengan pekerjaan yang seharusnya bisa langsung digarapnya.

*****

Editor: Kamila El Sabilla

Ilustrator: Angga Pratama

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like