Eksistensialisme: Interpretasi Plural Perkara Makna Hidup

Penulis: Ifang Maulana | Bagaimana manusia yang autentik berusaha mencari makna hidup?
Eksistensialisme?

Kebanyakan orang akan mendefinisikan eksistensialisme sebagai pandangan filsafat yang menjunjung kebebasan. Agak salah jika ingin memfokuskan eksistensialisme pada stand point tersebut, karena fokus utama dari eksistensialisme adalah perihal autentisitas, sesuatu yang mendefinisikan manusia dalam keterlemparannya di dunia untuk ingin menjadi seperti apa. Dan kebebasan di sini hanyalah sebagai instrumen untuk mencapai autentisitas tersebut. Eksistensialisme bukanlah semacam prinsip yang terdapat cara-cara bagaimana manusia seharusnya bertindak, melainkan sebuah bentuk pemahaman mengenai diri manusia dalam eksistensinya di dunia.

Cukup sulit memahami eksistensialisme jika ingin dicari deskripsi yang pasti. Sebab, begitu banyak filsuf yang bisa kita sebut sebagai eksistensialis yang masing-masing dari filsuf tersebut memiliki pandangan yang berbeda: Kierkegaard yang lebih fokus kepada leap of faith; Sartre yang disebut-sebut eksistensialis ateistik; bahkan Nietzsche yang selalu dikonotasikan sebagai nihilis pun sebenarnya bisa dikatakan eksistensialis juga dengan gagasan Will To Power yang ada dalam setiap diri manusia untuk direalisasikan dengan cara yang berbeda. Tidak terheran jika eksistensialisme yang saya jabarkan di sini akan berbelok dengan filsuf-filsuf eksistensialis yang pernah ada.

Terlebih, narasi ini bisa dibilang lebih condong direferensikan kepada eksistensialisme Sartre, namun justru Sartre akan dikritisi habis-habisan, dan kritik terhadap Sartre di sini adalah fokus utama. Sebagai jalan memulai eksistensialisme yang reformatif, dan desentralisir elitisme ekslusif dari eksistensialis yang orang-orang anggap sebagai “Filsafat untuk si paling ingin di atas”.

Satu hal yang pasti, narasi ini akan cocok diafiliasikan dengan eksistensialisme berdasarkan sebagaimana fundamentalnya ketika dibicarakan: mengenai suatu diskursus akan makna, dan autentisitas berbeda dari setiap esensi yang bebas manusia miliki. Berbeda karena beranjak dari analisa fenomenologis yang mempostulatkan adanya relativitas kondisi dan orientasi dari setiap individu.

Tak terlewatkan jika bicara soal makna hidup. Berbeda dari tujuan hidup, yang dalam ranahnya hanya di penerapan teknis tanpa persoalan perihal apa yang seharusnya. Saya bisa berkata tujuan saya bangun tidur adalah untuk mandi sarapan berkemas kemudian berangkat kerja, agar akhirnya memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjalani kehidupan. Tak mentok sampai situ, lalu apa yang akhirnya akan dilakukan, ketika hal-hal teknis tersebut sudah ada di tahap akhir? Untuk apa saya harus menjalani hidup, terlepas dari desakan dari sosial, di mana sosial sendiri seharusnya mempertanyakan hal yang sama. Pertanyaan ini bisa dimulai bahkan sebelum saya terbangun dari kasur.

Makna hidup adalah apa yang sudah menjadi final ketika semua pertanyaan mengenai tujuan tak lagi melahirkan pertanyaan baru, tak ternegasikan dan terus berjalan secara mutlak. Makna hidup adalah zeitgeist yang telah menemukan posisinya pada kondisi yang sudah ideal di puncak tertinggi.

Makna hidup bukanlah makna yang partikular berlaku seorang diri, melainkan dapat dibawa secara universal. Dalam arti, pertanyaan mengenai makna hidup akan terus berlanjut dengan atau tanpa seorang diri. Maka dari itu, apa yang disebut sebagai krisis eksistensi bukanlah masalah mengenai masa depan Anda secara personal, melainkan masa depan seluruh umat manusia.

Dan bagaimana umat manusia menempu hidup dengan jalan yang berbeda, justru memungkinkan adanya disorientasi makna, namun justru pula yang pada akhirnya memunculkan ruang diskusi mengenai hal tersebut. Diskusi yang berujung pada polemik nan tak kerap selesai, yang bisa direpresentasikan sebagai: Stadion Polemik.

Stadion Polemik

Bayangkan sebuah stadion yang menggelar polemik panjang melibatkan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, dengan pembawaan narasinya yang juga berbeda. Masing-masing perspektif saling menghujan badaikan argumen terkait seperti apa makna hidup sesungguhnya. Ada yang menyebut diri mereka sebagai hedonis, agamawan, dan saintis. Ada yang berkata, “Tujuan tertinggi dari kehidupan adalah bahagia, sebab itulah ujung dari perjuangan manusia”; ada pula yang berkata “Kau melupakan Tuhan sang pencipta, yang memberi kita hidup untuk bersembah kepadanya”; dan ada juga yang berkata “Tuhan tidaklah ada, berpikirlah secara logis, dan kembangkan inovasi demi kesejahteraan manusia”. Datanglah si nihilis sang pendobrak, yang tak berpihak pada perspektif mana pun, selain berkata kepada mereka, “Persetan perdebatan garing kalian, tidak ada yang namanya makna hidup”. Lalu ada satu silent listener, si skeptis, yang tidak tahu di mana ia akan bersetuju: kepada pencari makna kah, atau kepada si nihilis. Bahkan lebih banyak orang-orang yang tidak hadir ke stadion tersebut, hanya menikmati hiburan budaya populer dan nongkrong-nongkrong bareng teman-temannya tanpa ada pikiran berat sekali pun.

Namun makna hidup adalah apa yang sudah final, posisi paling ideal dari panjangnya kontemplasi radikal. Dapat dikatakan, mereka yang berada mau pun tidak berada di stadion, sebenarnya sudah menduduki posisi final mereka. Sebab mereka adalah manusia, yang dikutuk untuk berdampingan dengan roh “pemaknaan”. Jika Sartre berkata, “Human condemned to be free”, maka tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk memaknai. Tak ada satu pun properti yang tidak manusia maknai, bahkan ketika ia telah menolak untuk memaknai, ia sendiri sudah menempatkan makna bahwa “Hal tersebut tidak perlu dimaknai”. Seorang nihilis adalah seseorang yang telah memaknai kehidupan bahwa kehidupan tidaklah bermakna; seorang skeptis adalah seseorang yang memaknai kehidupan bahwa semuanya patut dipertanyakan; bahkan mereka yang tak berpikir sama sekali, telah menemukan posisi finalnya pada apatisme.

Dari sini terdengar sudah berbelok dari apa yang eksistensialisme Sartre katakan. Sebab memang Sartre menuliskan buah pikir elitis munafik nan inkonsisten: dengan terminologi mauvaise foi merendahkan orang-orang yang–tanda kutip–tidak membaca tulisan si Sartre. Mauvaise foi adalah mereka yang menolak kebebasan menjadi autentik, dan memilih untuk hidup terlena pada keadaan sosial yang ada. Padahal keterlenaan mereka adalah salah satu jalan hidup yang mereka pilih berdasarkan kebebasan yang mereka punya: mereka telah menjadi autentik dengan sendirinya. Mereka telah menemukan posisi finalnya.

Mauvaise foi adalah kembaran dari apatisme, keduanya sama-sama tidak berada di stadion. Letak perbedaannya hanya pada proses kontemplatif, di mana apatisme sudah memutuskan untuk menghentikan percakapan filosofis, berbeda dari mauvaise foi yang sedari awal tidak mengambil keputusan sama sekali. Namun bagaimana pun, keduanya telah sampai pada posisi yang mereka anggap telah menjadi bagian dari dirinya, sebab sebuah syarat akan pemaknaan tidaklah terpaku pada permasalahan kontemplatif atau ranah diskursus, melainkan status ontologis yang terlepas dari kesadarannya memahami status tersebut: A tetaplah A meskipun A tidak tahu menahu dirinya adalah A.

Hal yang sama berlaku pada skeptisisme, yang sering disebut telah kehilangan orientasi jelas pada tujuannya untuk menjadi autentik. Namun bagaimana pun, menjadi autentik tidaklah harus bertuju pada orientasi tertentu, sebab posisinya sudah menjadi bagian dari dirinya, yang justru sudah memilih jalan pada penghindaran orientasi arbitrer. Dengan begitulah skeptisisme bukan lagi menjadi pandangan yang tidak jelas arahnya, melainkan sebuah perlawanan terhadap penawaran arah yang sebenarnya arah tersebut tidak pula mengandung kejelasan yang pasti.

Berikutnya adalah mereka sebagai kaum konvensional, yang sudah secara afirmatif menawarkan konsepsi tentang makna hidup. Sebagai agamawan, yang Sartre anggap bertentangan dengan “Eksistensi mendahului esensi”, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sebab-akibat. Namun juga salah jika berkata bahwa agama menawarkan arah, justru bagaimana narasi tersebut muncul adalah karena penganutnya sendiri yang berkata seperti itu. Anakronisme seperti ini tidaklah menjadi alasan bahwa agama terinvalidasi sepenuhnya, hanya saja ada miskonsepsi yang tidak terlalu berdampak pada status autentiknya.

Berlawanan dengan kaum positivisme, yang menolak keberadaan entitas metafisik, yang dengan penolakan keberadaan entitas tersebut pada akhirnya menolak seluruh turunannya. Penjunjungan terhadap metodologi saintifik, telah menutup segala kemungkinan fenomena yang terjadi tanpa adanya keterkaitan empiris. Agama, maupun positivisme, keduanya menjadi pandangan yang menciptakan objektivisme, dan karena inilah bisa dimengerti bahwa keduanya telah ditolak oleh eksistensialis.

Namun bagaimana pun, seharusnya keduanya tetap bisa ditoleransikan. Objektivisme adalah salah satu jalan yang mereka tempu untuk mencari posisi finalnya. Penolakan terhadap relativisme, sebenarnya merupakan aksi yang telah ditopang dari relativisme itu sendiri. Mereka tidaklah menolak sistem dari luar, melainkan menolaknya dengan memasuki sistem itu sendiri. Dengan begitu, objektivisme adalah jelmaan dari relativisme yang tak dapat dihindarkan.

Stadion polemik adalah representasi yang paling mungkin untuk bisa menggambarkan kejadian di lapangan, di mana perdebatan mengenai—salah satunya—makna hidup bukanlah keharusan untuk membawa suatu narasi menjadi objektif: tidak ada yang menang, sebab semua kontestan sudah menang sedari awal, bahkan begitu juga untuk mereka yang tidak mengikuti pertandingan.

Namun bukan berarti pertandingan ini sia-sia begitu saja. Ruang perdebatan tetap dibutuhkan, untuk mencari dinamika dari diskursus ideologis menuju tahap baru dari berkembangnya pemikiran. “Posisi final” bukanlah diartikan sebagai ketetapan yang sudah selesai, namun sebuah puncak dari yang dianggap telah menemukan autentisitasnya, dan tentu saja autentisitas akan terus ternegasikan untuk pada akhirnya menemukan new kind of authenticity. Caranya adalah dengan proses dialektika.

Esensi dan Eksistensi terhadap Dialektika

Keberangkatan eksistensialisme dimulai dari entre-pour-soi, atau apa yang disebut sebagai keberadaan manusia berkesadaran untuk dapat mengesensikan apa yang ada di luar dirinya. Sebuah properti yang autentik hanya mungkin untuk diesensikan apabila terdapat individu berkesadaran yang dapat menegasikan setiap being yang eksis. Autentisitas hanya mungkin dicapai apabila dilakukan melalui proses dialektis dalam dinamika realitas.

Eksistensi dari properti mempunyai hubungan resiprokal yang erat dengan kesadaran, terlepas dari apakah properti itu secara benar ada atau tidak, namun jika dalam kesadaran manusia dapat membayangkan suatu properti, maka properti tersebut eksis dalam konteks ini. Sebab bagaimana sebuah kesadaran dapat membayangkan suatu properti, realitas harus bekerja secara dialektis: berkontradiksi satu sama lain hingga menemukan sintesis dari kontradiksi tersebut.

Bayangkan dua buah bintang, yang keduanya memiliki bentuk yang sama, massa yang sama, ukuran yang sama, radiasi yang sama, cahaya yang sama, dan terletak di tempat dalam koordinat yang sama. Identifikasi mengenai bintang tersebut tidak mungkin disimpulkan sebagai dua bintang: tidak ada dua, hanya satu. Cara yang pasti untuk membuat kedua bintang tersebut dikatakan ada dua, adalah kedua bintang tersebut disyaratkan memiliki beberapa perbedaan. Inilah gambaran umum mengenai dialektika, dan bagaimana proses dialektis berhubungan dengan esensi dan eksistensi.

Sebuah proses dialektis, yang mensyaratkan adanya perbedaan, merupakan jalan menuju satu kondisi yang membawa manusia pada keutuhan terhadap eksistensi dirinya. Dengan begitu, manusia dapat berkompromi untuk menemukan autentisitasnya dalam stadion polemik, untuk pada akhirnya menemukan new kind of authenticity. Hal inilah yang membuat eksistensialisme di sini dapat dikatakan lebih toleran dan menghindari sentralisir elitis.

Namun pertanyaannya, seperti apa syarat terbentuknya komponen dialektika ini? Apa yang menentukan kebedadaan dari suatu perbedaan? Jawabannya adalah dengan dihadapkannya kepada musuh terbesar eksistensialisme.

Faktisitas Menjadikannya Autentik

Eksistensialisme mempunyai musuh terbesar, bukanlah nihilisme atau agama yang dijadikannya musuh, melainkan sebuah gagasan yang eksistensialisme akui sendiri: faktisitas. Atau apa yang disebut sebagai ketetapan yang tak bisa diubah. Jika eksistensialisme memiliki senjata utama yang disebut sebagai kebebasan untuk menjadi autentik, maka faktisitas adalah yang mengahalangi kebebasan, bahwa manusia tak bisa menjadi autentik seperti yang diinginkan oleh dirinya karena terhalang oleh suatu kondisi determinan.

Justru ini salah. Seharusnya manusia sudah menjadi auentik berdasarkan what kind of on going condition that they got. Bahwa sebuah syarat akan autentik tidak terpaku pada keharusannya untuk memulai suatu conscious of will akan menjadi seperti apa diri mereka ke depannya. Sebuah kondisi fenomologis inilah yang seharusnya pada akhirnya menciptakan komponen dialektis untuk memulai perkembangan tahap baru autentisitas.

Tidak seharusnya manusia memulai perjalanan meaning of life problem dengan cara pandang yang sama. Harus ada perbedaan ideologis, di mana suprastruktur ini hanya mungkin dimunculkan keberadaannya jika telah berhadapan dengan kondisi determinan. Dan tentunya kondisi-kondisi yang ada juga harus terdapat diferensiasi yang memungkinkannya untuk menciptakan hal tersebut.

Seperti itulah jika ingin melihat diferensiasi suprastruktur dalam optimisme perkembangannya di kemudian hari. Tetap saja optimisme ini bukanlah iming-iming ideal yang hanya bisa ditunggu kapan akan terjadi, melainkan bisa menjadi jawaban dari segala pertanyaan mengenai kejelasan makna hidup yang sesungguhnya. Yaitu adalah bahwa makna hidup itu sendiri tidaklah harus dituju melalui syarat kebebasan, atau diharuskan menembus keadaan yang ada. Faktisitas telah memberi jawaban kepada manusia mengenai siapa diri mereka, dan bagaimana diri mereka telah menjadi autentik dengan ikatannya.

Namun sebelum menghindari hujatan yang berkata, “Faktisitas hanyalah opium untuk menenangkan keadaan sengsara manusia”, perlu untuk dipahami bahwa faktisitas hanyalah permulaan, dan bukan berarti faktisitas tidak dapat ditembus. Dalam arti, manusia pun tidak mengetahui secara jelas apa saja hal-hal yang determinan dalam hidup mereka, atau dalam hal apa mereka dapat dikatakan sedang berada di luar dari determinasi faktisitas.

Dengan Singkat Kata

Makna hidup hanya mungkin dicapai apabila setiap manusia berpencar ke arah yang berbeda. Lalu sesekali berkumpul untuk membicarakan apa yang telah mereka temukan. Dan bagaimana setiap manusia berpencar adalah jalan yang mereka tempu untuk menjadi autentik.

Bacaan Saya:
  • Fromm, Erich. 1947. Man for Himself
  • Houlgate, Stephen. 2006. Opening of Hegel’s Logic: From Being to Infinity. Purdue University Press
  • Lavine, T.Z. 1984. From Socrates to Sarte
  • Lih. “Kelas Filsafat. Hermeneutika Romantik: Friedrich D.E Schleiermacher”. 2014. Salihara Arts Center: https://youtu.be/4DRl73oqRts
  • M.A, Aldy. 2022. Konsep Nietzsche tentang Kehendak untuk Berkuasa (Esai Translasi). Newmindsclub: https://newmindsclub.com/konsep-nietzsche-tentang-kehendak-untuk-berkuasa-esai-translasi/
  • Sartre, Jean-Paul. 1948. Eksistensialism Is a Humanism
  • Priest, Stephen. 2007. The British Empiricists. Routledge
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like