Genealogi Determinasi Energi

Bagaimana manusia di seluruh dunia bisa bergantung pada sumber daya energi? Mengapa sumber daya energi dapat benar-benar berharga?

Alkisah terdapat sebuah wilayah tandus dan kering di Teluk Persia pada awal abad ke-20. Masyarakatnya mengandalkan sektor maritim untuk mencari mata pencaharian, seperti memancing dan mencari mutiara. Pantas bila negeri tersebut disebut sebagai kampung nelayan kumuh waktu itu karena begitu miskinnya. Dalam Sejarah Peradaban Dunia Kuno, Charles Seignobos menulis sekilas tentang kondisi wilayah Arab ketika ia menjelaskan sejarah bangsa Ibrani, “…mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain bersama ternak mereka berupa sapi, domba, dan unta, mencari padang rumput dan tinggal di tenda-tenda sebagaimana dilakukan orang-orang Arab gurun sampai hari ini.”[1] Dapat dibayangkan bagaimana latar suasana wilayah orang-orang Arab saat era Seignobos menulis, bukan?

Namun semua berubah secara gradual. Pasca Perang Dunia Pertama, Turki Ottoman harus menyerahkan wilayah itu kepada Imperium Britania Raya dan menjadikannya  protektorat Inggris. Perlahan, Anglo-Persian Oil Company memiliki konsesi minyak di wilayah setempat, lalu menemukan ladang minyak di tahun 1940.[2] Setelahnya, wilayah tersebut menjadi begitu kaya karena sumber daya alam energinya. Wilayah itu adalah Qatar, negara yang saat ini sedang menghelat Piala Dunia FIFA 2022, dengan perkiraan dana mencapai 3.000$ milyar atau lebih dari 3.000 T dalam Rupiah. Ini merupakan Piala Dunia FIFA terboros sepanjang sejarah. Bahkan, jika seluruh biaya pagelaran Piala Dunia digabung sejak 1930-2018, tidak akan sanggup menandingi Piala Dunia di Qatar. Semua ini berkat perekonomian Qatar yang didominasi oleh sumber daya energi, seperti minyak bumi dan gas alam.

Bisa dibayangkan, betapa berkahnya suatu negara penghasil sumber daya yang menentukan dan mengikat aktivitas sehari-hari manusia. Beberapa negara juga pernah menjadi kaya mendadak seperti yang Qatar alami. Sebut saja negara-negara Arab di era yang sama seperti Qatar, Indonesia di tahun 1974-1979 yang ekspornya tiba-tiba tumbuh pesat, dan Venezuela di awal 2000-an yang membuat pemerintah petahana melakukan kampanye subsidi besar-besaran. Ini membuktikan kalau sumber daya energi benar-benar berharga, khususnya energi konvensional atau energi fosil yang non-renewable (tidak dapat langsung diperbarui dalam waktu singkat). Seolah kita susah terlepas darinya.

Belakangan lalu kita sendiri dihadapkan dengan situasi pelik yang mencekik bagi sebagian orang saat Bahan Bakar Minyak (BBM) naik. Perang Rusia-Ukraina juga menjadi penyebab krisis energi yang terjadi di Eropa dan mengarah pada krisis ekonomi. Kita seakan-akan diikat oleh hasil sumber daya alam energi yang itu-itu saja, susah untuk membuat atau mendapatkan energi lain sebagai alternatif.

Sekilas Mengenal Sumber Daya Alam Energi

Secara sederhana sumber daya alam diartikan sebagai bahan yang tersedia di alam atau lingkungan tempat manusia hidup untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Manusia dapat melangsungkan kehidupannya berkat sumber daya alam (SDA). Terlihat antroposentris memang, karena makhluk hidup non-manusia juga dikategorikan sebagai SDA biotik dari sudut pandang manusia. Contohnya hewan-hewan domestik yang berada di peternakan dan perikanan, aneka flora yang bisa dikonsumsi dan dijadikan hiasan (berguna secara estetis), hingga fosil dari makhluk hidup yang mengandung senyawa organik yang mati jutaan tahun silam.

Selain SDA biotik, ada pula SDA abiotik. Air, tanah, udara, sinar matahari, tembaga, emas, perak, bijih besi, suhu, radiasi, keasaman, dan sejenisnya termasuk SDA abiotik. Komponen abiotik itulah yang menopang dan mempengaruhi komponen-komponen biotik. Sebelum epoch ‘antroposen'[3] (dari kurun pra-kambium hingga epoch holosen), makhluk hidup tak bisa mengubah ekosistem tempat makhluk hidup itu berada. Sebab komponen-komponen biotik muncul dari komponen-komponen abiotik. (Penulis tidak akan membahas panjang lebar tentang tesis emergentisme yang menyatakan kalau semua komponen biotik berasal dari komponen abiotik. Akan penulis ulas di lain kesempatan.) Pada intinya komponen-komponen biotik terikat dengan komponen-komponen abiotik.

Namun tidak semua komponen-komponen itu, baik biotik maupun abiotik, bisa disebut sumber daya alam. Karena tidak semua komponen-komponen yang ada di alam bisa berguna untuk manusia. Manusia mengklasifikasikan komponen-komponen alamiah yang dapat dimanfaatkan bagi kelangsungan hidupnya dan menyebutnya sebagai “sumber daya alam”.

Sumber daya alam berdasarkan pemanfaatannya terbagi menjadi sumber daya alam materi dan sumber daya alam energi. Sumber daya alam materi adalah SDA yang dimanfaatkan bentuk fisiknya, seperti besi, tembaga, kayu, dan batu. Sedangkan sumber daya alam energi adalah SDA yang dimanfaatkan untuk menghasilkan energi, seperti minyak bumi, gas bumi, batu bara, sinar matahari, pasang surut air laut, dan semacamnya.

Jadi sumber daya alam itu beragam, dan komponen alamiah yang dapat menghasilkan energi termasuk ke dalam sumber daya alam. SDA untuk menghasilkan energi kini dibutuhkan di seluruh dunia yang dikelola oleh industri energi. Sebenarnya energi tidaklah dihasilkan, melainkan berubah bentuknya. Setiap materi yang ada di alam semesta hanyalah konsolidasi dari energi. Albert Einstein di tahun 1905 merumuskannya. Rumusnya (energi (E) sama dengan massa (m) dikalikan kuadrat kecepatan cahaya (c), atau E=mc²) menunjukkan berapa banyak jumlah energi yang terkompresi dalam sejumlah materi. Akan tetapi, yang penulis fokuskan dalam tulisan ini adalah sumber daya—yang merupakan bentuk transformasi energi menjadi materi—yang digunakan untuk diubah ke dalam sesuatu yang dipahami sebagai “energi” secara common sense (akal sehat/penalaran umum). Singkatnya penulis ingin mengurai alasan manusia yang hanya bergantung dengan beberapa jenis sumber daya alam yang diolah menjadi energi pada dewasa ini.

Penggunaan dan Pentingnya SDA (Fosil) Penghasil Energi

Kegunaan energi bermacam-macam. Energi digunakan sebagai bahan bakar transportasi, pembangkit listrik, otomatisasi, dan sebagainya. Meskipun sebagian besar penggunaan energi ditransformasi dari SDA yang tidak terbarukan, nyatanya itu berkontribusi besar bagi segala lini kehidupan manusia. Sekitar 80% produksi energi yang dikonsumsi manusia hari ini berasal dari bahan bakar fosil.[4] Sisanya merupakan energi nuklir dan energi dari SDA terbarukan. Nuklir menggunakan uranium, sedangkan energi yang terbarukan bergantung pada angin, tenaga air, panas bumi, tenaga surya, dan bio massa. Bahan bakar fosil secara umum terbagi menjadi batu bara, gas bumi, dan minyak bumi.

Produk minyak bumi mungkin dikenal karena menghasilkan produk seperti bensin, solar, dan bahan bakar penerbangan yang berfungsi untuk terus menghidupi transportasi. Namun minyak bumi juga menghasilkan produk-produk yang esensial bagi kehidupan manusia, sebut saja aspal, lilin parafin, minyak tanah/minyak pemanas, plastik, hingga produk sampingannya seperti Liquified Petroleum Gas (LPG) yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, aneka pupuk untuk menstimulasi tumbuhnya berbagai macam tumbuhan, sabun yang sering kita pakai (entah untuk mandi atau ‘pemuas nafsu’), dan juga insektisida untuk membunuh serangga. Khusus untuk BBM, masyarakat rentan hipokrit karenanya. Mereka mengecam sekaligus menuntut untuk bisa memakainya, karena minimnya inovasi mereka di samping kehendak mereka untuk bisa menciptakan iklim yang lebih baik.

Gas alam atau gas bumi menghasilkan produk yang tak kalah pentingnya dari minyak bumi. Tidak semua produk gas bumi benar-benar murni dari gas alam, seperti metana. Terdapat tiga produk utama gas, yaitu LNG (Liquified Natural Gas) atau gas cair berasal dari metana di alam, LPG yang merupakan hasil samping produksi minyak bumi, dan CNG (Compressed Natural Gas) atau gas alam yang terkompresi pada suhu tinggi dan berbahan dasar sama dengan LNG, yaitu sama-sama dinominasi metana. Di negara-negara Barat, gas bumi diolah dan kemudian disuplai ke rumah-rumah warga untuk digunakan menjadi penghangat saat musim dingin, instrumen untuk memasak, serta pemanas air. Gas alam juga bisa digunakan menjadi listrik dengan cara mengubah metana menjadi energi panas, kemudian dari panas menjadi energi gerak, dan dari situ menghasilkan listrik. Untuk CNG dapat diolah menjadi bahan bakar gas bagi kendaraan seperti motor, mobil, bajaj, hingga bus maupun truk. CNG menjadi alternatif dari BBM.

Minyak bumi dan gas alam adalah SDA yang mirip dari segi komponennya karena sama-sama cair, meskipun gas alam harus melalui intervensi untuk mencairkannya. Lain halnya dengan batu bara. Batu bara terbuat dari batuan sedimen berwarna hitam kecokelatan yang berasal dari endapan organik selama jutaan tahun. Pengendapan tersebut berasal dari makhluk hidup yang hidup di era Carboniferous period, bagian akhir era paleozoikum. Batu bara menjadi bahan bakar dari sepertiga listrik yang ada di dunia.[5] Dan batu bara menjadi penyumbang utama energi bagi listrik. Itu artinya, kegiatan-kegiatan kita sehari-hari terikat oleh penggunaan batu bara.

Selain batu bara, sebenarnya masih ada alternatif lain untuk membangkitkan listrik, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang sifatnya ‘terbarukan’. Namun pembangkit listrik dari bahan terbarukan tidak selalu dapat diandalkan karena bergantung pada kondisi iklim dan cuaca. Sementara batu bara menjadi pilihan karena menghasilkan energi yang lebih stabil dan tidak bergantung pada iklim atau cuaca.

Meskipun hari ini bahan bakar fosil dapat memenuhi kebutuhan hidup umat manusia, terdapat banyak masalah yang ditimbulkan dari pemakaian bahan bakar fosil sebagai sumber energi. Hal tersebut justru akan mengancam umat manusia per se. Entah sampai kapan produksi energi global didominasi oleh sumber daya yang sulit untuk diperbarui. Mau tidak mau manusia tetap bergantung dengan SDA fosil sebelum SDA alternatif yang dapat diperbarui dan bersifat berkelanjutan dapat mapan menggantikan SDA fosil sepenuhnya. Jika manusia tidak transitif dan menolak secara drastis penggunaan bahan bakar fosil untuk menciptakan energi, maka itu dapat mengancam pola aktivitas manusia sehari-hari yang memungkinkan mereka untuk hidup.

Mengapa Situasi Ini Dapat Terjadi?

“Perubahan cepat terjadi di dunia yang mengalami globalisasi. Dahulu, pembelajaran kolektif terjadi di skala lokal atau regional, makanya dibutuhkan sepuluh ribu tahun sampai petani menyebar ke seluruh planet ini. Dalam dunia penuh jejaring global, hanya dibutuhkan beberapa abad untuk mengubah sebagian besar bumi.”

David Christian, The Origin Story

Transformasi energi sudah lama dilakukan oleh Homo erectus. Secara alamiah, tubuh mereka dapat membuat mekanisme pengubah energi. Mereka mengonsumsi makanan berupa tumbuhan yang mendapat energi dari proses fotosintesis atau daging binatang lain yang mengonsumsi tumbuh-tumbuhan. Mereka mendapat energi gerak dari makanan yang dikonsumsi. Secara mekanis, tubuh mereka menjadi aktif. Hal tersebut membuat mereka bisa melakukan segala aktivitas, termasuk mengerjakan sesuatu dengan otot-otot mereka, berpikir, berimajinasi, dan merasakan sesuatu.

Setelah sifat kognitif mereka lebih maju, mereka dapat menciptakan percikan api yang mengubah gaya gesek menjadi energi panas. Energi panas tidak hanya dimanfaatkan untuk mengolah makanan, tapi juga menghangatkan tubuh agar energi yang dimiliki tubuh bisa dihemat, mengeraskan tanah untuk dijadikan rumah, atau menjadi penerang di malam hari.

Selain api, ada juga sumber daya alamiah seperti air, angin, dan sinar matahari untuk menopang kehidupan manusia. Bahkan sampai menjelang era modern pun, manusia masih terikat oleh sumber daya yang sifatnya alamiah. Mereka masih mengandalkan pasang surut air laut dan angin musim untuk berlayar mengarungi lautan. Masalah yang muncul kemudian adalah siklus alam tidak selamanya taat pada keinginan manusia. Mereka tidak selalu bisa membuat alam tunduk untuk memenuhi kebutuhan mereka jika mereka hanya mengandalkan siklus alam.

Hingga abad ke-17, manusia masih berpikir bahwa satu-satunya ‘mega-inovasi’ yang bisa menghasilkan energi adalah pertanian. Tak heran jika mereka mengagung-agungkan tanah sebagai sumber penghidupan utama bagi mereka. Bahkan sampai dengan paruh kedua abad ke-18, banyak intelektual di Eropa menganut pola pikir semacam ini. Mereka adalah kaum fisiokrat/psiokrat, penganut model ekonomi fisiokrasi (physiocracy). Seorang fisiokrat, seperti Francois Quesnay, memiliki paradigma aktivitas ekonomi yang tersentral pada tanah dan tenaga kerja. Kemudian terdapat fisiokrat seperti Adam Smith yang mengkritik merkantilisme karena sistemnya berfokus ke pengumpulan sumber daya seperti emas dan perebutan koloni. Di situasi yang sama, beberapa ahli ekonomi di Eropa barat, termasuk Adam Smith, mulai curiga masyarakat Eropa telah mengeksploitasi energi dari ‘mega-inovasi’ itu hingga batasnya. Masyarakat akan segera menggunakan semua energi yang tersisa menurut Smith. Pertumbuhan akan terhenti, populasi juga menurun seiring masyarakat itu menghadapi batas aliran energi.[6] Di Belanda, petani harus mengeringkan laut untuk membuat lahan baru, sementara di Inggris menghadapi kekurangan kayu, entah buat bahan bakar, bangunan, maupun kapal. Di masa hidup Adam Smith, masyarakat sekitarnya telah mencapai batas atas penggunaan energi matahari.[7]

Krisis energi yang terjadi di beberapa wilayah di Eropa bagian barat, khususnya Inggris, saat itu sebenarnya sudah terjawab dengan penggunaan batu bara. Namun produk dari penggunaan batu bara belum lah dipakai secara massal. Pabrik-pabrik mulai beralih ke batu bara. Di abad ke-17, pembuat bir, batu bata, dan roti sudah menggunakan batu bara. Akan tetapi mereka belum menyadari bahwa batu bara akan benar-benar mendeterminasi mereka ke depannya. Mulailah di tahun 1700, saat batu bara menghasilkan 50 persen energi Inggris.[8]

Barulah setelah mereka benar-benar mempraktekkan merkantilisme dengan masif, dengan menggencarkan kolonialisasi dan imperialisasi terhadap berbagai wilayah di bumi, penggunaan bahan bakar fosil benar-benar dipakai secara mengglobal. Mungkin ini adalah konsekuensi dari akumulasi penciptaan satu sistem dunia secara tak sengaja oleh para pendahulu Inggris, seperti Spanyol dan Portugis yang sudah lalu lalang mengarungi Samudera Atlantik sejak Christopher Columbus tiba di benua Amerika tahun 1492.

Dengan terciptanya satu sistem dunia, teknik untuk mengubah dan mengolah bentuk energi menjadi seragam pula, tersentral dengan dominasi bahan bakar fosil, kendati masih ada sedikit pemakaian energi dari sumber daya alamiah yang dapat diperbarui. Merkantilisme tidak sepenuhnya salah, karena dari semangat ide tersebut dapat melahirkan penyebaran roda-roda industri ke seluruh dunia. Setiap negara adidaya berlomba-lomba memperebutkan wilayah yang kaya akan sumber daya untuk mengubah bentuk energi. Setelahnya, bahan bakar fosil menjadi asupan energi manusia sehari-hari. Lahirlah Era Industri.

Dua abad lalu mungkin hanya sedikit orang yang berpikir tentang betapa esensialnya bahan bakar fosil. Namun semenjak awal abad ke-20, berbagai negara memperebutkan wilayah yang kaya akan bahan bakar fosil. Minyak bumi menjadi rahasia umum penyebab peperangan. Wilayah yang kaya bahan bakar fosil menjadi surga penghasil pundi-pundi finansial, sebuah surga dalam dunia. Jika bahan bakar fosil sudah menjadi komoditas komersial yang penting sejak ribuan tahun lalu, bisa jadi manusia mewariskan konsepsi surga yang dipenuhi bahan bakar fosil—mungkin minyak bumi karena komponennya yang cair—dari suatu ritus agama pada kita, seperti halnya konsepsi mengenai adanya sungai madu, sungai susu, dan sungai arak.

Apa yang Menjadi Masalah?

Seperti yang banyak orang ketahui pada umumnya, bahan bakar fosil menyumbang peran terbesar dalam membentuk perubahan iklim. Peningkatan karbon dioksida di atmosfer sebesar 50% sejak awal Revolusi Industri[9] mulai membiasakan diri manusia. Dampaknya meliputi efek rumah kaca, kenaikan rata-rata suhu bumi per abadnya, semakin intensnya badai, es kutub perlahan mencair, kenaikan permukaan air laut, dan masih banyak lagi.

Namun bukanlah itu dampak terburuk dari determinasi sumber daya fosil yang mengikat kehidupan manusia. Bahan bakar fosil berasal dari SDA yang memerlukan waktu lebih banyak untuk terbentuk ketimbang digunakan atau dihabiskan oleh manusia. Hal tersebut tidak seperti kayu—misalnya—yang cepat terbentuk kembali sebelum persediaan kayu habis. Jika manusia belum sanggup memakai bahan bakar alternatif untuk mengubah energi selain bahan bakar fosil secara dominan, maka mereka harus memangkas penggunaan energi.

Pada kenyataannya, energi tidak akan pernah habis. Energi tidak akan pernah kurang untuk mencukupi kebutuhan manusia. Namun yang kurang adalah pengetahuan manusia dalam mengubah energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya agar terus bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan manusia. Jumlah energi yang terkandung dalam seluruh bahan bakar fosil tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan energi matahari yang menyinari bumi. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah keterbatasan teknik dan pengetahuan kita dalam mengubah bentuk energi sinar matahari menjadi keseluruhan energi yang kita butuhkan di segala sendi kehidupan.

Rujukan:

[1] Seignobos, Charles (1912). History of Ancient Civilization. New York: Charles Scribner Son’s. Diterjemahkan oleh Ahmad Asnawi (2021). Yogyakarta: Penerbit Indoliterasi, hal. 83

[2] Sorkhabi, Rasoul. 2010. “The Qatar Oil Discoveries“. GeoExpro

[3] Istilah antroposen dibuat Eugene F. Stoermer (dan dipopulerkan Paul Jozef Crutzen) untuk menyatakan skala waktu geologis ketika manusia bisa mempengaruhi ekosistem di Bumi.

[4] “World Energy Statistics | Enerdata”. Yearbook.enerdata.net. Retrieved 2 December 2022.

[5] Birol, Fatih; Malpass, David. “It’s critical to tackle coal emissions – Analysis”. International Energy Agency. Retrieved 3 December 2021.

[6] Wrigley, E.A. 2011. Energy and the English Industrial Revolution. Cambridge: Cambridge University Press.

[7] Crosby, Alfred W. 2006. Children of the Sun: A History of Humanity’s Unappeasable Appetite for Energy. New York: W.W. Norton, p. 60

[8] Wrigley, Energy and English Industrial Revolution.

[9]  “Carbon Dioxide Concentration”. Climate Change: Vital Signs of the Planet. NASA.

Penyunting: Fahmi Anbiya

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like