Hilangnya Makna dalam Hidup dan Kekecewaan

Penulis: Ralip Sakur | Beberapa pandangan perihal hilangnya makna hidup.

Saat ini kita hidup di zaman yang dinamis di mana berbagai informasi mudah untuk didapatkan melalui internet maupun melalui interaksi antar manusia. Dengan demikian, manusia telah hidup di era yang menawarkan kenyamanan, keamanan, dan kenikmatan dalam sejarah perkembangan manusia. Tidak hanya itu, saat ini, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan sangat maju dibandingkan dengan zaman dulu. Sehingga dapat memunculkan suatu pertanyaan eksistensial mengenai makna hidup di zaman ini.

Eksistensi

Sebelum masuk ke dalam pembahasan alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu eksistensi/eksistensialisme. Eksistensialisme adalah tradisi pemikiran filsafat yang diasosiasikan dengan beberapa filsuf Eropa abad ke-19 dan abad ke-20 yang menyepakati bahwa pemikiran filsafat bermula dengan subjek manusia—bukan hanya subjek manusia yang memiliki potensi berpikir, tetapi juga manusia berpotensi untuk bertindak, merasa, dan hidup. Menurut Jean-Paul Sartre, eksistensialisme adalah suatu pandangan yang mengangkat kebebasan, tujuan, dan makna dalam hidup manusia. Jean-Paul Sartre juga berpendapat bahwa, setiap manusia memiliki suatu makna dan tujuan. Selain itu, manusia juga di bebaskan untuk menciptakan tujuan, mengapa ia dapat hidup. Dari sinilah ia mulai menggeluti aliran filsafat eksistensialisme. Filsafat eksistensialisme yang di kemukakan oleh Jean-Paul Sartre dapat dikenali melalui beberapa poin yang selalu membahas akan adanya suatu kebebasan (freedom). Meskipun kebebasan dalam konteks ini berbeda dengan konsep Nietzsche melalui filsafat nihilisme.

Hilangnya suatu Eksistensi

Penyebab hilangnya eksistensi manusia dalam kehidupan sebenarnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal, disebabkan oleh adanya pikiran yang selalu menanyakan keberadaan dan makna hidup manusia. Sedangkan, faktor eksternal disebabkan oleh perubahan profesi pekerjaan, ditinggalkan oleh seseorang yang disayangi, dll. Nietzsche, filsuf asal Jerman berpendapat bahwa, penyebab makna dan tujuan hidup itu menghilang karena adanya modernisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan maju, maka manusia dapat menafsirkan segala yang bersifat roh menjadi ilmiah dan pedoman agama/teologi juga akan semakin berkurang. Sehingga bagi Nietzsche, Tuhan sebenarnya telah mati. Setelah Tuhan ini mati, maka manusia akan kehilangan makna dan tujuannya hidup.

Nihilisme

Nietzsche mengkritik eksistensi dan agama melalui karya-karyanya, salah satunya adalah Tuhan telah Mati, Seruan Zarathustra, dan Genealogi Moral. Dari karyanya yang berjudul Tuhan telah Mati, Nietzsche menciptakan gaya filsafat eksistensialisme baru yang mendobrak segala pemikiran tentang makna dan tujuan hidup manusia, yaitu filsafat Nihilisme. Menurut Nietzsche, makna dan tujuan hidup yang terlihat dari suatu masyarakat baginya tidak memiliki makna sama sekali. Makna hidup yang dilihat dari sudut pandang agama, masyarakat, hukum, ilmu, dan politik. Menurutnya, itu bukan esensi yang sesungguhnya. Makna dan tujuan hidup yang sebenarnya menurut Nietzsche adalah ketika manusia itu mengetahui bahwa hidup ini tidak bermakna, maka ia menciptakan makna hidup untuk dirinya sendiri tanpa terbelenggu dari sudut pandang apa pun. Bagi Nietzsche, itulah makna hidup yang sebenarnya. Sehingga muncullah filsafat nihilisme.

Nihilisme terbagi menjadi dua, yaitu: nihilisme aktif dan nihilisme pasif. Pertama, Nihilisme aktif seperti yang dijelaskan di atas menegaskan bahwa memang dunia ini tidak bermakna, maka ciptakanlah makna versi dirimu sendiri. Kedua, nihilisme pasif menurut Nietzsche adalah “mereka” yang frustrasi akan makna hidup. Sehingga mereka melihat nihilisme sebagai pelampiasan ketidakberdayaan manusia, akhirnya mereka memandang hidup memang tidak berarti dan termakan oleh ketidakberartian itu sendiri. Albert Camus juga mendeskripsikan kehebatan nihilisme pasif dengan karyanya yang berjudul The Stranger, dalam novel tersebut, dijelaskan seorang tokoh yang bernama Mersault, kehidupan Mersault selalu diwarnai dengan konflik dan penyelesaian yang begitu absurd. Tidak berhenti sampai di situ, Albert Camus juga mendeskripsikan nihilisme pasif melalui karyanya yang berjudul Mitos Sisifus.

Absurdisme

Filsafat absurdisme dikemukakan oleh Albert Camus dan secara implisit mendasarkan dirinya pada filsafat eksistensialisme—Jean-Paul Sartre. Eksistensialisme yang dikemukakan oleh Albert Camus memiliki tendensi untuk mengkritik makna dan arti hidup itu sendiri. Serupa dengan Nietzsche, namun, Nietzsche masih memberikan kesempatan bagi manusia untuk menciptakan makna, sedangkan Albert Camus tidak. Dari filsafat absurdisme yang Camus kemukakan, ia memandang bahwa kehidupan sebenarnya tidak memiliki makna, maka “terima saja”. Ini jelas berbeda dengan sudut pandang Nietzsche yang masih memberikan kesempatan bagi manusia untuk memaknai hidup, sedangkan Camus menyarankan untuk menerima saja apa adanya segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan.

Hilangnya makna dan tujuan hidup menurut Albert Camus adalah ketika manusia sadar bahwa apa yang ia lakukan hanya suatu rutinitas yang berulang, maka di situlah ia mulai kehilangan makna dan tujuannya. Karena ia akan menganggap bahwa segalanya hanyalah suatu siklus yang selalu terulang secara konstan, sehingga makna tersebut akan menghilang dengan sendirinya.

Psikologi

Para psikolog mendefinisikan krisis eksistensi sebagai titik balik, di mana manusia mulai mempertanyakan eksistensinya dalam hidup ini dan makna dari hidup itu sendiri atau dapat disebut sebagai ‘malam gelap jiwa’ (dapat didefinisikan sebagai: kebingungan). Penyebab krisis eksistensi menurut para psikolog terjadi ketika seseorang menghadapi situasi yang sulit, khususnya stres. Krisis eksistensi juga dapat terjadi ketika seseorang mengalami depresi eksistensial, dll. Tidak hanya itu, psikolog juga berpendapat bahwa sebenarnya krisis eksistensi dapat terjadi karena adanya konflik internal, di mana manusia menanyakan keberadaannya di alam semesta, namun tidak bisa terjawab dengan memuaskan. Sehingga membuat manusia mulai frustrasi dan akhirnya depresi eksistensi.

Kesimpulan

Dari beberapa penjelasan di atas, kita dapat melihat dari sudut pandang filsafat dan psikologi bahwa terdapat beberapa kesamaan, yaitu: kondisi frustrasi dan stres yang mendalam. Meskipun ada alternatif yang ditawarkan melalui filsafat eksistensialisme—Jean-Paul Sartre. Namun, bagi beberapa filsuf lain, masih terdapat banyak kekurangan mulai dari kritik yang disampaikan oleh Nietzsche dalam nihilismenya hingga Albert Camus dengan absurdismenya. Perlu kita ketahui bahwa masih terdapat beberapa kekurangan dalam pandangan filsafat di atas. Namun, dari usaha para filsuf tersebut, akhirnya kita menjadi tahu nilai fundamental dari krisis eksistensi dan hilangnya makna dari kehidupan manusia serta esensi kehidupan yang telah dijelaskan oleh Nietzsche.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like