Krisis Kepercayaan Era Society 5.0

Penulis: Angga Pratama | Bagaimana manusia menyikapi arus informasi secara skeptis di tengah peralihan era masyarakat 5.0?

Masalah yang terjadi saat ini merupakan salah satu dampak dari kegagalan manusia dalam menghadapi perubahan-perubahan yang tidak sesuai dengan nilai pada dirinya. Perubahan yang terjadi meliputi aspek kehidupan manusia dengan berbagai problem yang ditimbulkan. Namun, kita tidak bisa menghindari atau menunda suatu perubahan demi menjaga zona nyaman. Kenyamanan yang sedang kita rasakan adalah hasil dari perubahan di masa lalu. Upaya untuk lepas dari suatu superioritas masa lalu dapat membentuk kebudayaan baru yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang.

Di balik semua itu, kita menemukan salah satu masalah yang sering dialami oleh manusia. Ketidakpercayaan dan rasa curiga sering menjadi ciri khas dari suatu budaya baru. Ketika budaya lama tersebut berhasil masuk ke dalam fase kejenuhan, maka suatu pergerakan untuk merubah atau melakukan lompatan baru menuju era baru terjadi. Manusia akan cenderung untuk melindungi diri mereka dari adanya culture shock, sehingga mereka mencurigai motif baru tersebut agar ia tidak menjadi objek-objek ekonomis suatu era.

Rasa curiga dan keridakpercayaan merupakan naluri manusia untuk mempertahankan dirinya. Perilaku tersebut semakin jelas pada abad ke-16 dan abad ke-17 ketika Machiavelli memberikan kita suatu analisis dasar tentang rasa curiga dan ketidakpercayaan yang berkaitan dengan ilmu politik, dan dasar tersebut juga relevan untuk kehidupan sosial manusia. Machiavelli menawarkan suatu penyelesaian parsial terhadap fenomena baru dengan mengedepankan adanya rasa curiga dalam upaya pertahanan diri manusia.

Akan tetapi, krisis kepercayaan bukan saja terjadi ketika kepercayaan berada pada titik terendah. Namun, ia juga dapat terjadi ketika kepercayaan tersebut sedang berada pada titik tertingginya dan kita tidak menyadari bahwa ada peluang untuk terjadinya penyalahgunaan suatu kepercayaan dalam melaksanakan tindakan yang merugikan eksistensi manusia.

Gagasan ini adalah suatu bentuk pragmatisme pemikiran manusia dalam mengendalikan dirinya untuk bertindak dan kehendak untuk percaya. Gagasan humanisme yang berkembang sejak zaman Renaisans dan memberikan pengaruh pada revolusi industri 4.0 tidak serta memberikan kemudahan manusia untuk menjalankan kehidupannya.

Asumsi tentang manusia tidak terlepas pada beberapa sifat yang secara natural dipandang buruk, yaitu: tamak, tidak tahu terima kasih, mencari untung sendiri, tidak kompeten, tidak ingin terlibat masalah/ingin segera keluar dari masalah, dan sering menyembunyikan sesuatu. Beberapa sifat tersebut mempengaruhi tingkat kepercayaan manusia yang mudah tersugesti oleh fakta yang belum tentu benar dan hanya berdasarkan pada unsur praktis dalam mencapai tujuan, menyebabkan krisis kepercayaan pada fase peralihan dari revolusi industri 4.0 ke era society 5.0.

Krisis ini menghambat proses kemajuan manusia dan berorientasi pada ego. Ego yang memiliki defense mechanism tersebut membutuhkan keyakinan pada dirinya sendiri agar dapat menyikapi perubahan yang terjadi pada dirinya dan lingkungan sekitar. Nilai ideal dari ego yang berusaha dibentuk tersebut mempengaruhi pola perilaku manusia di kehidupannya.

Peralihan yang terjadi dari era lama ke era yang baru biasanya akan menimbulkan suatu jarak bagi manusia untuk menyesuaikan diri di era yang baru. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh orang-orang dengan sifat di atas agar ia dapat mencapai suatu tujuan. Situasi manusia yang mudah untuk tersugesti ketika dalam fase peralihan dan dihadapkan pada arus informasi yang tidak terbendung, membawa dirinya pada suatu argumen atau fakta yang keliru. Suatu pernyataan dan kejadian yang sering kita dengar dapat benar dan dapat salah.

Arus informasi yang keliru tersebut dapat memiliki tujuan atau tidak, informasi yang murni keliru itu tidak akan memberikan dampak besar bagi manusia. Informasi keliru yang tidak memiliki tujuan apa pun di belakangnya hanya akan memberikan dampak terkejut dan keheranan sementara dari manusia.

Apabila informasi yang keliru tersebut memiliki maksud tertentu, maka ia akan memberikan suatu dampak yang serius bagi tingkat kepercayaan manusia yang berujung pada fanatisme dan skeptisme. Krisis kepercayaan ini disebabkan adanya kekeliruan dalam memahami suatu informasi, sehingga manusia hanya akan terjebak pada blunder informasi yang tidak layak untuk diimplementasikan.

Tindakan Praktis dan Uji Argumentasi

Manusia dengan segala keterbatasan yang mereka miliki sering kali memanfaatkan keputusan praktis yang dapat diambil agar suatu masalah dapat terselesaikan. Namun, apakah kita pernah sejenak berpikir bahwa tindakan praktis tersebut mengarahkan kita pada prinsip politik kehidupan yang tidak memiliki hubungan dengan nilai moral? Keputusan yang tidak dipertimbangkan dan hanya berdasarkan pengaruh dari suatu propaganda laten, menyebabkan manusia sering kali melakukan tindakan yang akhirnya merugikan dirinya sendiri.

Di setiap era baru dalam fase kehidupan manusia, kita sering dihadapkan pada kasus propaganda yang menggunakan unsur dramatis, hoax, atau sinisme agar membuat manusia menjadi bertindak atau merubah suatu pola pikir. Karakter buruk manusia inilah yang menyebabkan kita terjebak pada krisis berkepanjangan yang dapat membuat hubungan sosial masyarakat menjadi terpecah.

Salah satu aspek yang terpengaruh oleh krisis kepercayaan adalah lingkungan kerja. Tidak jarang di era revolusi industri 4.0 dan era society 5.0, kita mendengar suatu pernyataan “lingkungan kerja yang bersifat kekeluargaan”. Jika kita merujuk pada suatu pernyataan murni yang berkaitan pada iklim kekeluargaan dalam bekerja tanpa adanya maksud tertentu, maka kalimat tersebut dapat dibenarkan. Namun, apabila pernyataan tersebut memiliki maksud untuk mendominasi dan digunakan sebagai kontrol karyawan agar menjalankan suatu tindakan tanpa adanya tuntutan perhitungan upah bagi jam kerja yang berlebih, maka kalimat tersebut tidak dapat dibenarkan. Di era society 5.0 ini, kita sedikit lamban untuk melakukan analisis atas pernyataan-pernyataan sehingga kita sepenuhnya memberikan kepercayaan kita tanpa berpikir panjang. Faktor yang mendukung adanya krisis kepercayaan berkepanjangan ini antara lain: peluang kerja, propaganda entitas, faktor finansial, dan kepentingan kapital.

“Lingkungan kerja yang bersifat kekelurgaan”, menjadi suatu janji dan juga menimbulkan daya tarik bagi para tenaga kerja untuk memilih suatu perusahaan. Namun, tidak jarang ada entitas yang memanfaatkan kalimat itu untuk memenuhi kebutuhan dengan upah minimal atau bahkan dengan cuma-cuma. Dengan maksud tertentu yang menyelimuti pernyataan tadi, iklim kekeluargaan membawa kita pada asumsi suatu keadaan yang begitu hangat dan begitu ramah untuk bekerja, segala sesuatu dikerjakan bersama dan permasalahan diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Dengan prinsip itu, para entitas yang tidak bertanggung jawab menyisipkan suatu tujuan agar individu dapat menjalankan kerja lebih di luar dari kemampuan yang dituntut melalui kriteria penerimaan atau jobdesc. Tidak jarang apabila kita sudah terjebak pada pernyataan itu tanpa menguji atau melakukan analisis entitas. Kita mengerjakan suatu tugas yang tidak sesuai dengan cakupan dan atau melaksanakan tugas lebih tanpa adanya penambahan upah atas tindakan yang kita lakukan.

Pembelaan yang biasanya terjadi untuk menjaga siklus ini adalah “loyalitas”. Sehingga apabila seseorang yang sudah terjebak dan merasakan dampak buruk dari kegagalan untuk uji pernyataan sebelum kepercayaan diberikan secara utuh, ia akan melakukan generalisasi kepada setiap entitas lainnya. Inilah bahaya dari suatu krisis kepercayaan. Ketika generalisasi suatu pernyataan sudah biasa dilakukan, maka tingkat kepercayaan dan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri pada suatu keadaan akan lamban dan skeptis dalam memandang suatu inovasi.

Skeptisisme Fase Peralihan

Krisis kerpecayaan yang terjadi membawa manusia kepada pandangan skeptis, ia tidak lagi mudah untuk mempercayai suatu perubahan yang membawa dirinya pada keadaan yang lebih baik. Sisi pertama dari krisis kepercayaan ini dapat memberikan manusia nalar yang kritis untuk mengkritisi dan juga identifikasi suatu argumen yang saling berkaitan. Sisi kedua dari krisis kepercayaan ini dapat menyebabkan suatu pelemahan minat untuk menjadi berkembang karena pandangan yang skeptis atas inovasi. Sehingga, manusia menjadi tidak mudah untuk membuka dirinya pada suatu era yang baru.

Mereka memiliki suatu pandangan buruk tentang perubahan dan hanya akan memberikan penderitaan baru bagi harapan yang mereka miliki. Manusia hanya akan berlindung di dalam gua pemikiran dan ego yang mereka miliki sebagai bentuk pertahanan diri dari upaya konversi menjadi objek ekonomis.

Referensi:
  • Bertens, K, Jonahis Ohoitimur, Mikhael Dua. 2018. Pengatar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius;
  • Russel, Bertrand. 2020. Penaklukan Kebahagiaan. Jalan Baru: Yogyakarta;
  • Maslow, Abraham H. 2019. A Theory of Human Motivation. General Press: New Delhi.
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like