Materialisme-Dialektika: Geologi dan Manusia

Hari ini kami kembali pada alam raya yang luas, terkhususnya Ibu Bumi yang menjadi tempat kami bernaung, yang mencerminkan dirinya dalam segala fenomena yang timbul pada alam dalam diri manusia. Mikrokosmos.

Semuanya berawal dari Bumi, begitulah sekiranya landasan awal mengenai bagaimana kita memahami persoalan Materialisme-Dialektika. Pemikiran manusia tidaklah lepas dari persepsinya terhadap alam-luarnya, yakni alam-luar yang terus menerus berubah sepanjang zaman. Manusia turut berperan dalam mengubah alam-luarnya serta turut berubah secara fisik maupun secara perilaku sehingga dapat menyesuaikan dengan perubahan alam-luarnya. 

Dalam lingkup makro, secara garis besar pertentangan antara kepentingan kelompok manusia yang satu dengan kelompok manusia yang lain, yang disebabkan oleh prakondisi alam-luar pada ujungnya menciptakan kondisi yang baru pada masyarakat secara luas yang menciptakan perubahan sistem dan pola pikir seperti yang tergambar oleh sejarah dalam perubahan masyarakat feodal menuju masyarakat komersial modern. Bagaimanapun sama seperti manusia, Bumi sebagai planet yang dinamis juga turut berubah. Pembentukan pegunungan, letusan gunung api, dan aliran sungai yang gemericik. Selain itu, dapat dipahami pula bahwa hukum-hukum yang berlaku saat ini pada umumnya berlaku pula di masa lalu.

The present is the key to the past

James Hutton

Pemikiran Hutton ini dikenal dengan nama “uniformitarianisme” yang menjadi lawan dari pemikiran “katastrofisme”. Barangkali kita bisa sependapat dengan pernyataan Hutton, kecuali pada suatu kesalahan besar mengenai paradigma bahwa laju peristiwa geologis adalah sama dari waktu ke waktu secara stik gradualistik (lambat). Realitanya, sejarah Bumi adalah proses yang lambat dan bertahap namun juga diselingi oleh peristiwa bencana alam yang sesekali terjadi dalam tempo waktu yang cepat. Walaupun, terjadinya katastrofi bisa jadi merupakan pengaruh dari pembentukannya secara gradual seperti bagaimana air berubah fasanya jika temperaturnya naik perlahan demi perlahan menjadi 100 derajat Celcius, seperti saat kita mengobservasi pembentukan gunung api. 

Manusia, Muda dan Rentan

Spesies manusia purba pertamakali terpecah dari akar proses evolusi yang begitu panjangnya pada sekiranya 4.4 juta tahun yang lalu. Setidaknya, hal inilah yang berhasil dibuktikan dengan ditemukannya fosil manusia purba tertua di dunia, Ardipithecus Ramidus di Ethiopia, Afrika pada tahun 1994 silam. Hal ini cukup kontras dengan usia Bumi yang sekiranya berumur 4.6 milyar tahun. Manusia adalah makhluk yang tergolong muda. Jika usia Bumi saat ini diibaratkan dengan 24 jam, manusia belum lama datang pada menit-menit terakhir setelah kemunculan dan kepunahan makhluk-makhluk laut purba serta reptilia-reptilia raksasa di daratan. 

Keberlangsungan hidup manusia tidak dapat dilepaskan dari Bumi, tempat kita tinggal dan dilahirkan. Manusia bukan hanya makhluk yang tergolong muda, namun juga rentan. Bagi nenek moyang kita yang mulanya berpikir secara serbasederhana, pertanyaan-pertanyaan mendesak untuk memahami bumi muncul oleh kondisi-kondisi hidup yang juga mendesak, yang berkaitan dengan hajat hidupnya. Jika keadaan alam belum memaksa, barangkali tenaga, kepandaian dan pengetahuan manusia itu akan tetap sama atau konstan seperti pada awalnya. 

Hal ini dapat dilihat jika kita kembali berkaca pada tanah air kita sendiri, saat kita melihat salah satu suku di Indonesia, yakni suku Anak Dalam yang umumnya masih bisa mendapatkan semua keperluan hidupnya di alam sekitarnya di hutan-hutan rimba Sumatera, sebelum modernisasi masuk secara gradual ke dalam kehidupan suku Anak Dalam. Dapat kita tarik kesimpulan, gagasan merupakan buah cerminan dari materi yang terus menerus berubah secara konstan, seperti properti elektrisitas muncul dari suatu materi bernama elektron yang terus menerus bergerak. Mudah pula seharusnya kita pahami bahwasanya perbedaan mendasar antara orang Indonesia yang hidup primitif dan hidup modern bukanlah berada pada sifat dan kesanggupannya melainkan pada perbedaan keadaan sekitarnya.

Realita bahwa manusia adalah makhluk yang tergolong muda dan rentan pulalah, yang menjadi genealogi bagi terciptanya terminologi ‘keseimbangan lingkungan’, yang merupakan narasi antroposentris, yang menyadarkan umat manusia mengenai keberadaan nilai pada lingkungan berdasarkan konsekuensinya terhadap manusia. Bumi yang megah dan dahsyat itu, akan terus berputar dan bergerak dengan ataupun tanpa manusia. Hal yang sebenarnya vital bagi umat manusia, adalah kenyataan mengenai bagaimana keberlangsungan hidup manusia dideterminasi oleh kondisi hidup yang tepat, oleh alam-luarnya dan oleh kesesuaian biologi manusia.

Materialisme – Dialektika

Marilah kita kembali kepada pembahasan kita mengenai Materialisme-Dialektika. Pertama-tama sekali, dari hakikatnya sebagai suatu upaya rekonstruksi terhadap Dialektika Hegelian melalui Materialisme Feuerbach oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, serta sebagai basis pemikiran bagi kaum Marxis di seluruh dunia. Materialisme (dalam artian ini) menyatakan akal budi merupakan cerminan dari materi yang nyata, sedangkan proposisi dasar dialektika adalah bahwa segala hal selalu ada dalam proses perubahan yang dinamik, yang terjadi melalui pertentangan-pertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini sekiranya dapat dijabarkan dan dirangkum dalam tigahukum yang utama. 

Unsur Yang Berlawanan

Hukum yang pertama, adalah bahwa perubahan terbentuk melalui interaksi antara dua unsur yang berkontradiksi. Hal ini mudah sekali kita temukan fenomenanya semisalnya dalam proses eksogenik seperti pengangkutan massa, yang timbul dari interaksi antara gaya gravitasi dengan kekuatan material lereng (dipengaruhi oleh air, vegetasi, kelerengan, dan sebagainya). Pada akhirnya, gaya gravitasi yang dominan mendorong terjadinya pengangkutan massa, mengubah lanskap muka bumi. 

Dalam konteks sejarah, hal ini dapat kita lihat dalam penggulingan corak produksi feodalisme menuju kapitalisme, yaitu perlawanan para petani dan kelas menengah terhadap para bangsawan dan agamawan, yang membentuk corak produksi kapitalisme yang kita saksikan saat ini. Kapitalisme telah merombak jauh struktur sosial-politik masyarakat, memberikan masyarakat kebebasan berkomersil, dan mengubah relasi-relasi produksi pada masyarakat.

Kuantitas dan Kualitas

Hukum yang kedua, adalah loncatan-loncatan dari kuantitas menjadi kualitas. Perubahan-perubahan yang gradual, yang menjadi sebuah hal yang signifikan. Pertama, mari mulai dari sebuah penemuan revolusioner Wegener yang menjadi salah satu fondasi bagi ilmu geologi modern mengenai tektonik lempeng. Lempeng-lempeng yang bergerak secara gradual, yang disebabkan oleh arus konveksi di dalam astenosfer yang bersifat plastis. Pergerakan lempeng terjadi di setiap hari, minggu, dan tahunnya secara konvergen, divergen, maupun transform, menghasilkan sebuah perubahan yang terlihat insignifikan sejauh 1 sampai dengan 7 cm per tahunnya. 

Konvergensi/tabrakan lempeng antara kerak benua dan kerak samudera (yang memiliki massa jenis lebih besar) menyebabkan kerak samudera menunjam ke dalam kerak benua, membentuk gunung api di daratan. Butuh proses sekiranya berjuta tahun bagi pergerakan lempeng untuk bergerak dengan jarak yang cukup signifikan dan bertabrakan dengan lempeng lainnya, sehingga mendeformasi lanskap muka bumi secara signifikan serta berdampak secara amat signifikan pada lingkungan hidup dan masyarakat setempat. Analogi sekaligus contoh nyata lainnya dapat kita temukan dalam proses penguapan air dan kondensasi awan. Air harus dinaikan suhunya satu per satu sehingga berada pada titik didih, sehingga berubah menjadi uap air. Sedangkan, uap air harus naik perlahan demi perlahan hingga mendingin menuju titik embunnya sehingga berkondensasi menjadi awan.  

Hal ini dapat pula kita temukan pada masyarakat sosial-politik. Ketika suatu kondisi sosio-ekonomi mengintensifikasi pergerakan-pergerakan politik serupa gerakan buruh sehingga dapat menyebabkan perubahan yang signifikan bagi lanskap sosio-ekonomi masyarakat, menyebabkan perubahan bagi struktur-struktur sosial dan politik masyarakat. Dapat kita pahami juga, bahwa revolusi-revolusi seperti halnya Revolusi Perancis bukanlah sebuah revolusi yang bermula dari kenihilan melainkan bermula dari akumulasi-akumulasi dari kekecewaan dan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi yang menimpanya.

Negasi dari Negasi

Hukum ketiga, ialah bahwa setiap hal yang bernegasi dapat kembali bernegasi, namun tidak kembali pada rujukan mula-mula. Suatu perkembangan dapat bergerak ke arah yang berseberangan, namun tidak serta merta menyangkal dirinya ke bentuk yang lama sepenuhnya. Teori Tektonik Lempeng mengafirmasi bahwa perkembangan seperti ini dapat sewaktu-waktu terjadi. Superbenua Pangea merupakan superbenua yang paling banyak dikenal oleh masyarakat modern, karena menjadi asal mula dari benua-benua modern yang kita kenal saat ini. Namun, jauh sebelum Pangea diperkirakan sudah banyak superbenua-superbenua lain seperti Kenorland dan Rodinia yang barangkali terdengar asing bagi masyarakat awam. Lempeng-lempeng terus menerus mengalami divergensi dan konvergensi yang beriringan, memisah dan kembali menyatu, membentuk superbenua yang baru.  Hal ini dikenal pula dengan istilah ‘Siklus Wilson’.

Serupa dengan itu, kaum Marxis berargumen bahwa perkembangan masyarakat kapitalis modern sebagai negasi dari merkantilisme pada era feodalisme justru menegasikan dirinya kembali menjadi kapitalisme monopoli. Hal ini dapat kita lihat dari dominasi korporasi-korporasi seperti Facebook, Google, dan Nestle pada sektornya masing-masing. Selain itu, negara digadang-gadang justru mempertahankan kepentingan bisnis yang monopolistik atau oligopolistik alih-alih mempertahankan kepentingan rakyatnya. Konsentrasi modal swasta pada segelintir menjadi sebuah kekuatan yang sangat masif, yang mempengaruhi instrumen-instrumen suprastruktur seperti lembaga, media massa, dan sebagainya yang sangat mungkin membantu dalam mempertahankan kekuasaan monopoli dan oligopoli modal swasta. 

Dengan ini pula, hukum-hukum dunia tidaklah serta merta bersifat kaku, bahwasanya manusia hanya dideterminasi (ditentukan) oleh alam-luarnya semata dan tidak dapat mendeterminasi dirinya sendiri atau bahwasanya manusia tidak dapat mengubah apa yang terdapat di alam-luarnya melalui jiwa dan tubuhnya. Sekalipun, cara kita memahami dan melihat dunia kembali lagi dipengaruhi oleh apa yang ada di luar diri kita mulai dari pengalaman, didikan, dan faktor-faktor eksternal yang barangkali berpengaruh terhadap pencerapan pancaindera kita. Manusia berasal dari kenyataan, dan manusia membentuk kenyataan.  

Alam-luar senantiasa berinteraksi dengan materi di dalamnya, menciptakan perubahan di antara anasir-anasir alam itu sendiri.  Selain itu, materi senantiasa berinteraksi dengan manusia, selaku dua hakikat: tubuh dan pikiran, dan manusia berinteraksi dengan sesamanya. Kita senantiasa menyaksikan dialektika di dalam keseharian kita, bahkan ketika angin berhembus menyapu debu-debu yang bertebaran di jalanan hingga hal-hal yang tak kasat mata seperti perubahan genetika dan pergerakan molekul udara. Dunia terbentuk dari dialektika dan dialektika membentuk dunia, dialektika itu abadi.

Referensi :

[1] Engels, Friedrich. 1883. Dialectics of Nature.

[2] Malaka, Tan. 1948. Pandangan Hidup.

[3] Einstein. Albert. 1949. Why Socialism?

[4] Woods, Ted. 1995. Reason in Revolt : Marxist Philosophy and Modern Science

[5] Tarbuck, Edward, Dennis. 2011. Essentials of Geology 11th Edition

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like