Materialisme Ekonomis: Modernisasi dan Komodifikasi Citayam Fashion Week

Penulis: Angga Pratama | Bagaimana iklim modern Citayam Fashion Week yang kreatif terjerumus kepada konsumerisme komoditas.
Modernisasi dan Komodifikasi

Apa yang kita pahami tentang modernitas dan modernisasi? Mungkin kita akan mengatakan bahwa kedua hal tersebut merupakan hal yang sama. Namun, hal tersebut tidak benar adanya. Modernitas dan modernisasi merupakan dua istilah yang berbeda, meskipun berasal dari satu kata baku yang sama, yaitu: “Modern”. Modernitas dan modernisasi memiliki makna yang berbeda,

Modernitas merupakan sekumpulan hal yang modern atau sesuatu yang baru ditemukan dan tanpa disadari memberikan manusia kemudahan untuk menjalani hidupnya, seperti: smartphone, jaringan 5G, electric car, dll.

Modernisasi merupakan sekumpulan hal tertentu yang modern dan ini timbul sebagai bentuk penemuan dan gaya hidup modern atau terbarukan daripada gaya hidup terdahulu. Dapat kita contohkan dengan keadaan ketika telepon rumah memasuki Indonesia, dan masyarakat banyak menggunakan telepon rumah tersebut untuk berkomunikasi, meski terbatas dari cara penggunaannya. Telepon merupakan suatu pilihan yang paling diminati karena ia adalah suatu entitas yang menjadi tanda dari suatu hal yang modern. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan efisiensi perangkat akhirnya telepon rumah tergantikan dengan smartphone yang lebih mudah dibawa dan memberikan kemudahan bagi setiap penggunana untuk memperoleh informasi yang lebih memadai.

Namun, semua keuntungan yang diberikan merupakan nilai lebih suatu entitas yang pada dasarnya dapat diakses oleh indra manusia. Keuntungan tersebut dapat dirasakan oleh pengguna dan produsen berdasarkan suatu nilai fisik dan mutlak berasal dari kapital fisik yang telah memasuki berbagai macam proses agar dapat dinikmati oleh pengguna.

Proses Modernisasi

Masyarakat dunia dan khususnya masyarakat Indonesia selalu mengalami suatu proses modernisasi. Namun, proses tersebut memiliki kecenderungan yang berbeda-beda di setiap wilayah dalam suatu negara berdasarkan dengan rasio perkembangan penduduk dan indeks sosial-politik-ekonomi di wilayah tersebut. Proses modernisasi dapat mengalami stagnasi sehingga menimbulkan adanya distorsi di dalam lingkungan sosial. Stagnasi tersebut biasanya terjadi akibat suatu pola komunikasi, informasi dan pengembangan yang terhambat sehingga suatu kelompok menjadi tertinggal dari kelompok lainnya. Dalam hal ini juga menjadi suatu indikasi tidak meratanya upaya pengembangan, namun kita tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat kelompok yang masih memegang nilai-nilai budaya tertentu sehingga proses modernisasi yang terjadi hanya partikular.

Modernisasi secara keseluruhan masih memerlukan suatu proses lebih lanjut dan tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan kesadaran manusia sebagai titik tolak pengembangan. Nilai-nilai kebudayaan yang sudah melekat dan menjadi identitas bagi suatu kelompok perlu diperhatikan agar tidak timbul kebingungan atas suatu kebudayaan baru atau teknologi baru yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Jika merujuk pada Citayam Fashion Week yang merupakan suatu fenomena yang menarik dan menjadi pusat perhatian masyarakat saat ini. Hal tersebut merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh kelompok remaja untuk menjalankan suatu modernisasi di dalam kelompoknya. Hal ini dapat kita lihat bahwa sekelompok anak remaja tersebut mengambil konsep dari Fashion Show yang sering kita lihat melalui media massa. Kesadaran akan suatu fashion dan juga makna pakaian yang mereka gunakan merupakan ciri dari modernisasi partikular.

Kawasan Sudirman yang dipilih untuk pagelaran Citayam Fashion Week sendiri merupakan kawasan yang berkembang dan ramah terhadap para pejalan kaki, sekelompok remaja yang berasal dari pinggiran Jakarta tersebut berupaya untuk melakukan modernisasi atas diri mereka sendiri dan menunjukkan eksistensi mereka di tengah masyarakat. Ini dapat dijadikan sebagai suatu indikator persebaran informasi, komunikasi dan pengembangan yang menyebabkan adanya trend tersebut.

Namun, perlu diperhatikan bahwa modernisasi juga memberikan kita suatu dampak buruk yang akhirnya membawa para pelakunya kepada suatu tingkat konsumsi berlebih. Ini sangat mengkhawatirkan apabila tidak dapat dikaji secara serius dan komprehensif, meski telah dikenal dan menjadi pembicaraan di tengah masyarakat.

Citayam Fashion Week menuai pro dan kontra di dalam pelaksanaannya, sekelompok remaja tersebut perlu biaya yang cukup besar untuk mendapatkan atribut fashion yang mereka butuhkan agar dapat menjadi yang paling keren di antara individu lainnya. Ini dapat menyebabkan kekeliruan dalam alokasi dana individu, yang akhirnya mereka harus merogoh kocek lebih dalam lagi dan melebihi batas maksimal kemampuan finansial mereka agar dapat mendapatkan apa yang mereka inginkan. Akhirnya dari tahapan modernisasi, ia berlanjut menjadi tahapan komodifikasi yang disebabkan oleh perilaku konsumtif tersebut.

Komodifikasi menjadi Kapital Komersial

Komodifikasi yang terjadi berbenturan dengan nilai-nilai kebudayaan dan modernisasi itu sendiri. Citayam Fashion Week muncul sebagai suatu hal yang merupakan dampak dari adanya modernisasi, namun dapat kita lihat bahwa di balik sebuah trend dan juga fenomena yang ada di masyarakat terkadang tidak terlepas dari kepentingan suatu kelompok untuk mendapatkan keuntungan di balik fenomena-fenomena. Perkembangan trend dan juga gaya hidup yang menuntut adanya pergerakan tiada henti di dalam diri manusia dapat menciptakan peluang ekonomi dan membuat segmentasi baru bagi para pelaku ekonomi.

Komodifikasi merujuk kepada upaya tertentu yang dilakukan oleh seseorang untuk menentukan suatu nilai tukar yang dapat timbul dari suatu nilai guna. Nilai guna yang terkandung di dalam Citayam Fashion Week meliputi beberapa bidang yang cukup kompleks sehingga dapat menghasilkan suatu nilai tukar.

Pola aktivitas yang baru dari para remaja sebagai pelaku Citayam Fashion Week dapat memberikan suatu nilai tambah pada bidang perekonomian. Komoditas yang dibutuhkan oleh para remaja tersebut membuat para pelaku ekonomi saling berupaya untuk menembus pasar dengan target para remaja. Namun, sangat disayangkan apabila Citayam Fashion Week tersebut menjadi sasaran komodifikasi. Kegiatan yang tadinya sebagai sarana kebebasan ekspresi para remaja dan merupakan bentuk dari kreativitas anak-anak muda untuk menampilkan kemampuan yang mereka miliki dalam dunia busana dan juga entertaiment. Apabila komodifikasi terjadi, dan hal ini dilakukan oleh sekelompok orang yang memiliki kemampuan dalam dunia perekonomian, maka nilai-nilai yang tumbuh secara mandiri dari Citayam Fashion Week hanya akan menimbulkan suatu keterasingan individu dengan komoditi yang mereka butuhkan.

Selain itu, perilaku konsumerisme akan terus timbul akibat adanya penekanan pada titik ekonomis konsumsi yang begitu kuat. Penekanan tersebut berfungsi untuk menekankan suatu keinginan menjadi suatu kebutuhan sehingga mereka akhirnya membeli komoditi yang tidak dibutuhkan. Keinginan yang berubah menjadi suatu kebutuhan diakibatkan adanya tekanan akibat tindakan komersialisasi dan komodifikasi. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk meningkatkan konsumsi para remaja, namun juga untuk meningkatkan keuntungan suatu pihak dari lalu lintas data pada media sosial.

Citayam Fashion Week tidak dapat bertahan sebagai suatu gerakan organik apabila kegiatan tersebut diubah menjadi suatu kegiatan yang terbatas pada tujuan keuntungan dan perekonomian. Kebebasan manusia adalah hal yang mutlak, kebebasan tersebut telah dibawa sejak lahir. Namun, suatu kebebasan juga dapat hilang atau terbatas pada beberapa keadaan sehingga manusia menjadi tidak memiliki kebebasan yang benar-benar bebas. Upaya komodifikasi tersebut terletak pada upaya sirkulasi kapital komersial dan juga merupakan suatu konsep klasik yang dibahas oleh Karl Marx dan Friedrich Engels.

Gerakan-gerakan kapital komersial ini merupakan suatu pergerakan kapital yang sudah ada di pasar dengan mengambil posisi sebagai kapital komersial. Citayam Fashion Week adalah suatu bagian yang berbeda dari bagian-bagian lainnya yang ada di lingkungan masyarakat yang memiliki suatu potensi tertentu untuk mengubahnya dari sekedar nilai guna menjadi nilai tukar. Nilai tersebut menunggu untuk berubah menjadi komoditi. Perkembangan kerja sosial yang masif dan pergerakan manusia yang terlibat di antaranya akhirnya memicu pergerakan baru untuk menentukan suatu fungsi yang tidak bergantung satu sama lain. Sehingga terjadi suatu metamorfosis menjadi penjualan dan pembelian yang erat kaitannya dengan upaya komodifikasi.

Pada perkembangannya, Citayam Fashion Week harus memiliki suatu kebebasan dan terlepas dari motif ekonomi tertentu, agar pergerakan dan perkembangan yang sudah terjadi secara organik dapat berjalan dengan semurninya.

Referensi:
  • Marx, Karl. 1991. Kapital III. Yogyakarta: Hasta Mitra – Ultimus – Institute for Global Justice;
  • Suryajaya, Martin. 2016. Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer. Yogyakarta: Resist Book;
  • Mohamad, Goenawa. 2018. Seni, Politik, Pembebasan. Yogyakarta: IRCiSoD.
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like