Membedah Pemikiran Tehbotoltehkotak Berdasarkan Pandangan Sinisme dan Satirisme

Penulis: Rigel Oktavian & Ralip Sakur | Kisah mengenai kecacatan berpikir dari seorang anonim di Discord Newminds Club.
Datangnya Si Anonim

Newminds Club, sebuah platform ilmu pengetahuan berbasis kemasyarakatan di media Discord, didatangi oleh seseorang anonim yang bernama Tehbotoltehkotak. Cukup disayangkan kedatangan ia tidak diharapkan oleh kelompok masyarakat atau member Newminds Club, karena tidak sejalan dengan pemikiran Tehbotoltehkotak. Pemikiran yang diadopsi oleh oknum ini mencampurkan unsur ideologi politik fasisme dan nasionalisme, walaupun penulis tidak bisa menebak secara pasti ideologi asli dari Tehbotoltehkotak.

Sebagai suatu intermezzo, Tehbotoltehkotak adalah member anonim yang bergabung dengan Newminds Club pada tanggal 9 Juli 2022, bertepatan pada hari Idul Adha. Kami sebagai pengkaji dari Institut Diogenes Indonesia, cukup terkejut dalam mengetahui seluk-beluk pemikiran dari Tehbotoltehkotak dikarenakan sikap acuh terhadap pandangan member Newminds.

Beliau berusaha untuk mempropagandakan pandangan politiknya dan mengesampingkan fakta bahwa Tehbotolkotak memiliki pengetahuan yang sempit, seperti pengkultusan kepada tokoh Soekarno dan Hitler. Pandangan ini sangat subjektif dikarenakan pemikiran Tehbotoltehkotak ini dirasa memiliki keberpihakan atau subjektivitas yang tinggi dalam memaknai suatu fakta. Beliau mengesampingkan fakta yang diberikan oleh teman-teman Newminds dan menganggap bahwa perilaku yang dilakukannya adalah yang paling benar. Tehbotoltehkotak juga melakukan teror terhadap member Newminds dengan ancaman tertentu. Kami akan membahas tentang fallacy dan langsung kepada inti materi.

Sinisme, Satirisme, dan Fallacy

Sebelum kita memulai pada inti pembahasan, alangkah baiknya kita mengenal filsafat. Dan sebelum kita masuk ke dalam sinisme, mari kita bahas terlebih dahulu filsafat sinisme Diogenes. Diogenes adalah pendiri mazhab Sinisme, ia adalah murid dari Antisthenes. Diogenes sendiri mengkritik gurunya karena dinilai apa yang diajarkan oleh gurunya itu berbanding terbalik dengan perilaku dan gaya hidup gurunya. Sinisme Diogenes lebih mendorong ke praktik, dan yang diajarkan adalah bodo amat, nyinyir, bikin konflik demi tahu pikiran lawan bicara, selalu memandang rendah orang lain, dan jangan terikat dengan materialis.

Diogenes sangatlah membenci adat-istiadat dan teknologi serta moral sehingga dalam salah satu anekdotnya, dia mencoba mencari orang jujur di pasar dengan menggunakan obor di siang hari. Menurut orang, hal itu sangatlah aneh dan seperti orang gila, jika mereka berfikiran seperti itu. Bagi Diogenes, mereka sendirilah yang gila karena tidak mengerti apa yang sebenarnya Diogenes cari. Hal ini mirip dengan apa yang Penulis kedua lakukan dengan Tehbotolkotak tadi. Penulis kedua dengan sengaja merendahkan diri agar bisa mengetahui isi dari penalaran si Tehbotolkotak ini.

Kita lanjutkan kepada Satirisme atau satire. Berdasarkan pandangan ahli, Nurdin, Maryani & Mumu (2002, hlm. 29), mengemukakan bahwa satire ialah gaya bahasa yang berbentuk penolakan dan mengandung kritik dengan maksud agar sesuatu yang salah dicari solusi atau kebenarannya. Pandangan yang bersifat satire dapat menghantarkan kepada pemikiran fallacy, dikarenakan suatu tindakan satire atau menyindir seseorang secara halus disebabkan oleh pemikiran fallacy dari lawan bicaranya. Satire mengaplikasikan majas seperti sinisme, sarkasme, dan ironi.

Manfaat dari satire adalah untuk mengungkapkan kritik terhadap lawan bicara terkait konteks yang dibicarakan. Alasan tersebut juga diperkuat oleh fallacy dari lawan bicara, biasanya sebagai contoh yaitu Argumentatum Ad Verecundiam, Cassandra Complex, Argumentatum Ad Hominem, Strawman, Overgeneralization, Post-Hoc, Circular Reasoning, Ad Ignorantum, Ambiguity, Appeal to emotion, dan Special Pleading. Sayangnya semua fallacy atau kesesatan berpikir yang dilakukan oleh Tehbotoltehkotak menjadi landasan dari sinisme dan satire, tetapi tidak semua akan kami jelaskan dikarenakan akan menimbulkan kontroversi yang lebih lanjut.

Cara Pikir Sesat

Mari kita hubungkan pendapat beliau dengan fallacy tersebut. Kita mulai dari Argumentatum Ad Verecundiam, Tehbotoltehkotak melakukan validasi kebenaran yang menurut beliau benar, tetapi berdasarkan realita itu sendiri bertolak belakang. Walaupun berdasarkan pandangan Diogenes, kebenaran mempunyai takarannya tersendiri. Kemudian, kita ulas fallacy Cassandra Complex, Tehbotoltehkotak melakukan pembelaan terhadap diri sendiri, beliau terbukti dirinya merasa tersakiti, tetapi beliau mengatakan bahwa dirinya tidak tersakiti.

Selain itu, Tehbotoltehkotak merasa argumentasinya sudah tidak dapat diterima, tetapi beliau mengelak bahwa pendapatnya dapat diterima secara logis dan rasional, pandangan ini dapat dihubungkan kepada Argumentatum Ad Hominem. Kemudian, Tehbotoltehkotak melakukan kesalahan dalam menyimpulkan pendapatnya sendiri sehingga mendapatkan reaksi yang tidak dapat diterima oleh lawan bicara, dalam kasus ini adalah member-member Newminds Club, disebut Strawman.

Overgeneralization adalah suatu pandangan di mana ia melakukan generalisasi atau penyetaraan yang berlebihan terhadap pandangan ideologisnya dan pandangan ini disetarakan oleh beliau, bahkan dihina-hina oleh beliau. Post-Hoc juga melekat dengan pandangan beliau di mana ia berpandangan dogmatik terhadap ideologinya. Selain itu argumen-argumen yang diutarakan oleh beliau selalu berputar-putar dan tidak dapat ditarik kesimpulan, yaitu Circular Reasoning.

Beliau juga terperangkap di dalam ketidakpengetahuannya terhadap suatu pandangan, dikarenakan minimnya sumber dan informasi yang didapat sehingga terciptalah suatu argumen yang dimanfaatkan untuk mengalihkan beban pembuktiannya, yang dinamakan Ad Ignorantum, berdasarkan pengamatan empiris kami, penulis menyadari masalah selanjutnya yang dihadapi Tehbotoltehkotak adalah ambiguitas. Sebenarnya beliau menyajikan suatu pendapat yang menimbulkan ketidakjelasan dikarenakan makna-makna yang disampaikan melalui kata-kata mempunyai simbolisasi perumpamaan yang berbeda-beda hingga menimbulkan multi-interpretasi.

Selanjutnya, adalah Appeal to Emotion, adalah memanipulasi respons emosional untuk menggantikan atau menutupi argumen lain yang valid dan masuk akal. Tehbotoltehkotak melakukan manipulasi respon emosional. Berdasarkan riwayat chat Discord, beliau seolah-olah menutupi fakta, yaitu beliau sangat emosi terhadap pendapat member Newminds yang lain dikarenakan pendapat tersebut bertentangan dengan pendapat beliau itu sendiri. Maka tidak heran setiap pendapat yang disampaikan oleh member lain ditolak mentah-mentah dan beliau mengandalkan emosi untuk melihat komentar dikarenakan pandangannya terhadap komentar member lain.

Terakhir adalah Special Pleading, dikarenakan beliau berbasis standar ganda, walaupun data atau fakta yang diberikan oleh member lain benar dan tepat, tetapi tetap saja beliau mengenyah pendapat tersebut. Pendapat yang benar menurut beliau adalah pendapatnya diri sendiri, di samping mengutip dari sumber-sumber yang terpecaya. Tetapi dikarenakan beliau menyimpulkan pendapat yang tidak tepat, tentu dalam memikirkan suatu pendapat akan dijelaskan secara matang. Sayangnya tidak, dan beliau hanya menggunakan insting untuk menentukan pendapat yang sebelumnya tidak dibentuk melalui deep structure dan tidak tersampaikan dengan baik.

Berdasarkan pandangan kami, kesalahan beliau dalam fallacy sangat banyak. Kami bukan menghakimi, tetapi memberikan fakta yang konkret dan sesuai dengan penelitian kami terhadap pemikiran Tehbotoltehkotak. Masalah ini kemudian berhubungan erat dengan ilmu lain seperti psikologi, linguistik, politik, sejarah, dan filsafat. Dikarenakan ilmu tersebut setidaknya dikutip oleh beliau.

Berkonfrontasi

Setelah kami menjelaskan dengan baik tentang fakta-fakta fallacy yang diberikan oleh Tehbotoltehkotak, sekarang kami akan membongkar cara kami dalam melawan argumen yang dilontarkan oleh Tehbotoltehkotak itu sendiri. Untuk lebih lanjut, penulis akan dialihkan kepada Ralip Sakur untuk memberikan pandangan kepada pembaca untuk membuat kontra-argumen terhadap orang-orang yang mungkin mirip dengan Tehbotoltehkotak.

Pendapat ini berdasarkan pandangan sinisme dan satir. Berdasarkan pendapat penulis kedua, yaitu Ralip Sakur, beliau mengungkapkan secara langsung pendapat dan kesaksiannya dalam menghadapi Tehbotoltehkotak. Secara langsung, penulis kedua juga pernah diteror oleh orang ini karena penulis mengerjai pemikirannya yang begitu absurd dan tak terverifikasi.

Tehbotolkotak ini bisa terpancing emosinya dan mengeluarkan semua fallacies nya yang telah penulis tulis di atas tadi, mulai dari beliau menjawab argumentasi penulis dan menyerangnya menggunakan argumen yang sifatnya menyerang fisik. Dan penalarannya yang mudah goyah, serta beberapa kegoyahan lainnya. Saat itu penulis mengaplikasikan sinisme dengan melihat bahwa Tehbotolkotak itu lebih rendah dari penulis serta menganggap bahwa Tehbotolkotak adalah orang dungu.

“Anda merasa lawyers papan atas nggak?” kata penulis. “Merasa, karena anda salah dalam bicara” jawab beliau. “Oke, ada lawyers tingkat tinggi dalam ranah intelektual, dia adalah Richard Posner, dia menulis buku The Analysis Economic of Law. 13 kali terbit dan telah dibaca di seluruh dunia. Dan dia adalah hakim agung Amerika Serikat. Jadi kalau anda tidak mengerti siapa itu Richard Posner, bagi Posner, Anda adalah papan tingkat dangkal itu.” jawab penulis. “Ya makanya saya cuma mengetes anda doang” jawab beliau.

Pandangan yang kami teliti melalui dialog sederhana ini, bisa kita simpulkan bahwa Tehbotolkotak tahu bahwa dia sudah tersakiti pikiran dan batinnya sehingga ia dengan tegas mengatakan bahwa dirinya hanya mengetes seolah-olah dirinya tidak tersakiti secara mental dan batin. Dalam ranah psikologi, ini disebut Cassandra complex. Dan tak hanya itu, saat dirinya membuat artikel, dia juga tidak bisa mengambil kesimpulan yang begitu tepat. Kalau dianalogikan, bahasan artikelnya itu Bumi namun kesimpulannya adalah Matahari.

Kesimpulan

Sebagai sebuah kesimpulan atau pengantar terakhir dari informasi sederhana dan mendasar dari pelogikaan sederhana, serta ditinjau dari segi ilmu pengetahuaan lain seperti psikologi, ilmu politik, sejarah, linguistik, dan lain-lain, hasil yang kami dapatkan adalah bahwa beliau atau Tehbotoltehkotak tidak memiliki konsistensi pemikiran dan sangat ceroboh dalam melakukan pelogikaan sederhana.

Di samping itu, beliau menunjukan keseriusannya dalam menggali informasi dengan cara melakukan riset ke segala sumber, walaupun sumber yang diperoleh sedikit, beliau menunjukan keseriusannya dalam berbicara perihal yang menjadi topik yang diajukan.

Di samping itu, kami penulis mengerti potensinya untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, khususnya di dunia politik sangat tinggi, terlebih ketika menjelaskan ilmu negara dan falsafah Pancasila. Kami mengerti konteks yang menjadi dasar penjelasan dari Tehbotoltehkotak, tetapi yang dipermasalahkan adalah inkonsistensi dalam berpendapat dan memaparkan sesuatu, ini yang menjadi hal yang fatal dalam berargumentasi.

Daftar Pustaka
  • Mazella, David. (2007). The Making of Modern Cynicism, Virginia : University of Virginia Press.
  • Navia, Luis E. (1996). Classical cynicism : a critical study. Westport : CT: Greenwood Press.
  • Hard, Robin (2012). Diogenes the Cynic: Sayings and Anecdotes, With Other Popular Moralists. Oxford : Oxford University Press.
  • Shea, Louisa (2010). The cynic enlightenment : Diogenes in the salon. Baltimore: Johns Hopkins University Press.
  • Krisnawati, Ega. (2021). Apa Itu Satire & Sarkasme : Contoh dan Perbedaanya. https://tirto.id/apa-itu-satire-sarkasme-contoh-dan-perbedaannya-ghPG. Jakarta : Tirto.Id. Diakses, 21 Juli 2022.
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like