Nietzsche dan Nihilisme

Penulis: Austin Cline. Diterjemahkan oleh Moch Aldy MA | Apakah Nietzsche benar-benar menuangkan gagasan nihilisme?

Ada kesalahpahaman umum bahwa filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, adalah seorang nihilis. Kalian dapat menemukan pernyataan ini baik dalam literatur populer maupun akademis, namun meskipun tersebar luas, itu bukanlah penggambaran yang akurat dari karyanya. Nietzsche banyak menulis tentang nihilisme, memang benar, tetapi itu karena dia khawatir tentang efek nihilisme pada masyarakat dan kebudayaan, bukan karena dia menganjurkan nihilisme.

Meskipun demikian, mungkin ini agak terdengar terlalu sederhana. Pertanyaan apakah Nietzsche benar-benar menganjurkan nihilisme atau tidak—sebagian besar tergantung pada konteksnya: Filsafat Nietzsche adalah target yang bergerak karena dia memiliki begitu banyak hal berbeda untuk dikatakan tentang begitu banyak subjek yang berbeda, dan tidak semua dari apa yang dia tulis benar-benar sesuai dengan semuanya.

Apakah Nietzsche Seorang Nihilis?

Nietzsche dapat dikategorikan sebagai seorang nihilis dalam arti deskriptif: ia percaya bahwa tidak ada lagi substansi nyata dari nilai-nilai sosial, politik, moral, dan agama tradisional. Dia menyangkal bahwa nilai-nilai semacam itu memiliki validitas objektif atau bahwa hal-hal itu memaksakan kewajiban yang mengikat kepada kita. Tentu saja, dia bahkan berargumen bahwa nilai-nilai sosial, politik, moral, dan agama tradisional—terkadang dapat berdampak negatif terhadap kita.

Kita juga dapat mengkategorikan Nietzsche sebagai seorang nihilis dalam pengertian deskriptif bahwa dia melihat banyak orang di masyarakat, di lingkungannya, menihiliskan diri mereka sendiri. Banyak, jika bukan sebagian besar, mungkin tidak akan mengakuinya, tetapi Nietzsche melihat bahwa nilai-nilai lama dan moralitas lama tidak memiliki kekuatan yang sama seperti dahulu kala. Di sinilah dia mengemukakan “kematian Tuhan”, dengan alasan bahwa sumber tradisional dari nilai tertinggi dan transendental, Tuhan, tidak lagi penting dalam budaya modern dan secara sukses telah mati bagi kita.

Menjelaskan nihilisme tidak sama dengan menganjurkan nihilisme, jadi apakah ada bukti di mana Nietzsche melakukan yang terakhir? Sebenarnya, dia dapat digambarkan sebagai seorang nihilis dalam pengertian normatif—karena dia menganggap “kematian Tuhan” akhirnya menjadi hal yang baik bagi masyarakat. Seperti disebutkan di atas, Nietzsche percaya bahwa nilai-nilai moral tradisional, dan khususnya yang berasal dari Kekristenan tradisional, pada akhirnya berbahaya bagi kemanusiaan. Dengan demikian, hilangnya dukungan yang besar pada hal-hal tradisional itu harus mengarah pada kejatuhan—dan itu hanya berarti satu: hal yang baik.

Bagaimana Nietzsche Bertolak dari Nihilisme

Namun, di sinilah Nietzsche memisahkan diri dari nihilisme. Kaum Nihilis melihat kematian Tuhan dan menyimpulkan bahwa, tanpa sumber nilai yang sempurna, yang absolut, yang universal, dan yang transenden, maka tidak akan ada nilai yang nyata sama sekali. Nietzsche, bagaimanapun, berpendapat bahwa ketiadaan nilai absolut seperti itu bukan berarti tidak adanya nilai sama sekali.

Sebaliknya, dengan membebaskan dirinya dari rantai yang mengikatnya dalam satu perspektif yang biasanya diikatkan pada Tuhan, Nietzsche mampu memberikan telinga yang adil kepada nilai-nilai dari banyak perspektif yang berbeda dan yang saling merasa eksklusif. Dengan melakukan itu, dia dapat menyimpulkan bahwa nilai-nilai ini “benar” dan sesuai dengan perspektif tersebut, bahkan jika nilai tersebut mungkin tidak sesuai dan tidak valid untuk perspektif yang lainnya. Memang, “dosa” besar dari nilai-nilai Kekristenan dan nilai-nilai Abad Pencerahan, setidaknya bagi Nietzsche, adalah upaya untuk berpura-pura bahwa nilai-nilai itu universal dan absolut—bukan terletak di beberapa rangkaian keadaan historis dan filosofis tertentu.

Nietzsche sebenarnya bisa sangat kritis terhadap nihilisme, meskipun itu tidak selalu diakui. Dalam buku The Will to Power (1901) kita dapat menemukan uraian berikut:

“Nihilisme adalah … tidak hanya keyakinan bahwa segala sesuatu pantas untuk binasa; tetapi seseorang benar-benar meletakkan bahu seseorang untuk membajak; seseorang menghancurkan.”

Memang benar bahwa Nietzsche meletakkan bahunya pada mesin bajak filsafatnya, mengoyak-ngoyak banyak asumsi dan keyakinan yang dihargai.

Namun, sekali lagi, dia bertolak dengan para nihilis karena dia tidak berargumen bahwa semuanya layak dihancurkan. Dia tidak tertarik untuk meruntuhkan kepercayaan tradisional menggunakan nilai-nilai yang juga tradisional; sebagai gantinya, dia ingin membantu membuat nilai-nilai yang baru. Dia menunjuk ke arah “Übermensch/Superman/Adimanusia” yang mungkin bisa mengonstruksikan seperangkat nilai-nilai secara mandiri terlepas dari apa yang orang lain pikirkan.

Nietzsche tentu saja adalah filsuf pertama yang mempelajari nihilisme secara ekstensif dan mencoba serta mengambil implikasinya dengan serius, namun itu tidak berarti bahwa ia adalah seorang nihilis dalam pengertian yang kebanyakan orang maksudkan dengan label tersebut. Dia mungkin menganggap serius nihilisme, tetapi hanya sebagai bagian dari upaya untuk memberikan alternatif terhadap ‘Void‘ (istilah Nietzschean untuk menjelaskan: ruang hampa; kehampaan; kekosongan) yang ditawarkannya.

Sumber Literatur

All About Nietzsche, Nihilism, Nihilists, and Nihilistic Philosophy LearnReligions: https://www.learnreligions.com/nietzsche-and-nihilism-250454

Baca Juga: Konsep Nietzsche tentang Kehendak untuk Berkuasa (Esai Translasi)

Biodata Singkat Penerjemah

Mochammad Aldy Maulana Adha, lahir di Bogor, Jawa Barat—pada 27 Maret 2000. Seorang Pengarang, Penerjemah, Ilustrator, dan juga Redaktur Omong-Omong Media. Bisa disapa melalui: email-genrifinaldy@gmail.com; instagram-@genrifinaldy; twitter-@mochaldyma

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like