Pegangan Hidup Manusia Fanatik

Ketika sang Manusia Fanatik telah terperosok dalam jurang tanpa batas Nihilisme ia berusaha mencari jalan untuk naik kembali.

Manusia Fanatik akan selalu mencari pegangan hidup dalam bentuk apapun, dan mereka tak akan segan-segan mencari kambing hitam untuk menjaga apa yang mereka yakini.

Setiap manusia pada dasarnya mempunyai kebutuhan untuk memuja dan percaya. Sehingga lahirlah suatu pegangan hidup yaitu agama, ideologi, dan lain-lain. Namun apakah dengan demikian mereka benar-benar bisa selamat dari suatu ombak besar kehidupan? Faktanya, tidak sama sekali, mereka membuat semacam paham optimistik untuk menghalau ombak tersebut dengan mengatakan “ujian dari causa sui, salah teori, dan lain-lain”. Menurut saya mereka sangatlah naif di depan realitas tersebut, seakan-akan mereka tidak mau mengiyakan saja ombak tersebut sebagaimana mestinya realitas dunia, mereka dengan fanatiknya menghakimi realitas itu dan menyingkirkannya menurut saya secara pribadi mereka tanpa sadar menunjukkan keterserakan diri mereka masing-masing. Bukankah memang sejatinya suatu kepercayaan dibutuhkan untuk dipercayai? Suatu kepercayaan mereka tidak butuh untuk dipercayai karena memang sejatinya manusia memiliki kebutuhan untuk memuja dan memercayai tersebutlah akhirnya memunculkan manusia-manusia fanatik yang dengan ketidaksopanannya di depan realitas akhirnya menghakimi realitas tersebut.

Para pendiri kepercayaan sejatinya merekalah penipu tafsir ulung. Mereka tahu moral dan etika sehingga mereka membuat suatu tafsiran yang kini kita sebut sebagai suatu aliran kepercayaan. Lantas bagaimana bentuk dari realitas tersebut? Realitas dunia sejatinya sangatlah dingin dan keras. Heraklitos pernah mengatakan bahwa dunia sejatinya adalah chaos, baginya dunia adalah kekacauan tanpa akhir yang diselubungi oleh pikiran dan emosi manusia sehingga mereka tampak nyata sebagai kebenaran sehingga kebenaran yang nampaknya kosong dan kacau akhirnya diberi selubung optimistik oleh sang pendiri yang akhirnya mereka ilahikan dan percayai.

Ketika apa yang akhirnya mereka dirikan tak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan untuk menopang hidup dan jiwanya terserak-serak maka di situlah lahirnya kekecewaan dalam diri mereka muncullah ascenden (kemerosotan) dalam benak pikiran mereka dan agar spirit mereka bisa tak terserak lagi lantas mereka mencari kambing hitam untuk dijadikan pelampiasan, mereka menyalahkan realitas yang hampa dan dingin tersebut. Ketika ascenden dalam diri mereka tak dapat dibendung dan mereka tak mampu mencari kambing hitam yang layak. Terjebaklah mereka dalam jurang hampa yang tanpa ujung yaitu Nihilisme.

Nihilisme bukanlah sesuatu aliran pemikiran yang baru, sebelum filsuf Jerman Nietzsche mengatakannya, dikatakanlah Nihilisme awal yang tercatat dalam sejarahnya dicetuskan oleh kaum Sofis Gorgias dalam buku Traktat tentang ketiadaan. Dalam tradisi kristiani, Agustinus juga pernah menggunakan istilah Nihilis. Tak lupa Jacobi (1799) juga pernah menggunakannya untuk surat kepada Fichte yang di dalam suratnya ia mengakui berperang melawan idealisme yang di matanya tidak lain adalah Nihilisme belaka. Selain untuk menamai aliran pemikiran, kata Nihilisme juga digunakan untuk menamai implikasi sosial politis dari Ateisme yang mewabah di abad ke-19.

Dari sini nampak bahwa Nihilisme bukanlah sesuatu yang baru, namun ia adalah suatu pemikiran yang antik dan kuno sejak zaman Yunani. Dari Nietzsche lah aliran pemikiran Nihilisme bisa diakui sebagai aliran pemikiran yang kompleks.

Ketika sang Manusia Fanatik telah terperosok dalam jurang tanpa batas Nihilisme ia berusaha mencari jalan untuk naik kembali. Namun karena jiwa kepercayaannya yang terlalu radikal, membuat mereka semakin jatuh lebih dalam lagi dan lagi. Ketika jiwa mereka tidak semakin mampu untuk menyusun fragmen mereka yang terserak, lantas mereka akan mengiyakan kebenaran realitas dengan pesimis dan Nihilis pasif. Mereka lantas akan menyalahkan kepercayaan yang mereka buat sendiri dengan melabeli dirinya dengan label Ateisme, Dengan mengatakan bahwa mereka percaya tidak ada lagi yang namanya tuhan. Dengan begitu tanpa mereka sadari mereka juga menjadi kaum lemah terhadap realitas dunia, mereka seakan sudah muak akan fanatiknya dan akhirnya mereka menjadi manusia tanpa arah.

Lucunya mereka menjadi kaum pelawak yang memberikan lelucon pada kaum manusia yang mengiyakan realitas. Mereka menciptakan kepercayaan dan meyakini secara mati-matian namun ujungnya mereka membenci kepercayaan yang mereka buat sendiri dan menciptakan kepercayaan yang baru. Di tahap itulah Nihilisme pasif semakin lama semakin menggerogoti pikiran dan jiwa mereka.

Karena Manusia Fanatik ini memiliki kebutuhan kepercayaan yang besar serta dibarengi kebutuhan untuk memuja yang begitu meledak-ledak. Akhirnya mereka membuat suatu lahan pertempuran antar kepercayaan yang besar pula. Mereka seperti saling menghakimi satu sama lainnya. Dan mencoba menjadi kaum yang benar, padahal bagi realitas itu sendiri mereka sangatlah Absurd. Mencoba mencari suatu kebenaran dengan menghakimi realitas dan membuat peperangan yang tiada akhir, bagi realitas itu sendiri mereka bagaikan prajurit-prajurit yang mati konyol, yang berperang dengan ketidakpastian, yang saling bunuh membunuh tanpa alasan yang jelas. Inilah yang lantas membuat suatu moralitas menjadi inmoralitas.

Lantas bagaimana caranya manusia kuat menyikapi realitas yang dingin dan keras tersebut? Hanya ada satu cara, mereka mengiyakan saja realitas tersebut, mereka menerima saja apa yang sebenarnya terjadi. Namun mereka tak lupa juga memberi sedikit rasa waspada supaya tidak terjerumus dalam suatu ide fixe (konsep fiksatif). Karena mereka sadar bahwa dunia adalah ketercampuran antara baik dan tidak, antara benar dan ketidakbenaran. Lantas mereka menari di tepi jurang karena setiap kata maupun segala suatu pemikiran hanyalah topeng selubung belaka untuk menutupi realitas yang ganas tersebut.

Dengan begitu mereka sang manusia kuat menjadi kaum Nihilisme aktif yang dimana mereka menjadi Manusia yang tak bisa terserak dan menciptakan moralitas untuk diri mereka sendiri, karena sejatinya mereka telah mengetahu bahwa hidup adalah monster yang ganas dan indah seperti wanita.

Namun sebagai konsekuensi jika kita memandang mereka dengan demikian maka kita juga akan menjadi kaum yang terperangkap dalam konsep fiksatif. Karena kita dengan mudahnya membuat kesimpulan akan mereka, lantas bagaimana yang harus kita lakukan? Buatlah suatu pemikiran sendiri. Yang tanpa referensi dari pihak ketiga seperti kisah manusia lain, lalu kita menirunya hal ini akan menjadikan diri kita sebagai kaum terserak yang tak mampu membuat moralitas sementara.

Kaum Manusia Fanatik seperti di atas, sejatinya adalah kaum manusia yang begitu hina dan rendah, mereka tak mampu melakukan segala sesuatu secara bebas. Karena mereka terbelenggu oleh doktrin dan kegilaan kebutuhan mereka sendiri. Sehingga dengan demikian mereka menjadi manusia yang gila akan kepercayaan yang mereka buat agar hidup mereka tenang, padahal kepercayaan yang mereka yakini tadi tak lebih hanyalah narkose belaka agar spirit lemah mereka menjadi kuat di luar namun tetap saja lemah di dalamnya.

Referensi:

Teks Nietzsche MBJ§14 “Melampaui Baik dan Jahat”

Teks Nietzsche GS§13 “Balas Dendam”

Gaya Filsafat Nietzsche§224”Realitas”

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like