Stoikisme sebagai Mode atau sebagai Pandangan Hidup

Penulis: Angga Pratama | Apa itu stoikisme, dan bagaimana stoikisme mengendalikan kepuasan.
Apa Itu Stoikisme

Menurut stoikisme, prinsip kehidupan yang baik terletak pada physikos zen. Dalam hal ini merujuk pada pengertian untuk menjalani kehidupan dengan alam. Keselarasan kehidupan manusia dengan alam ini juga diimbangan dengan logos yang memungkinkan adanya ketertiban dan keteraturan alam yang sangat sistematis. Manusia dan hewan memiliki kecenderungan untuk melindungi dirinya sendiri terlepas dari perbedaan mendasar dari dua spesies ini. Manusia yang dibekali dengan pemikiran yang logis dan kemampuan bernalar yang baik apabila diasah dengan maksimal. Dengan kemampuan tersebut, manusia berupaya untuk mendorong daya insting menjadi terarah.

Stoikisme sendiri merupak aliran filsafat Yunani kuno yang dipelopori oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke-3 SM. Jika kita membaca stoikisme, kita akan mengenal tokoh yang memiliki pengaruh besar pada perkembangan stoikisme, yaitu: Seneca, Epictetus dan Marcus Aurelius. Tokoh-tokoh tersebut kemudian membawa stoikisme berkembang hingga saat ini dikenal dalam masyarakat luas.

Kehidupan manusia yang penuh dengan dinamika sosial serta turut serta dipengaruhi oleh berbagai macam perubahan yang disebabkan adanya gesekan-gesekan di dalam bermasyarakat. Permasalahan yang muncul di dalam lingkungan masyarakat tidak terlepas dengan ambisi dan keinginan manusia untuk meguasai alam dan menguasai manusia untuk mencapai tujuannya, hasrat manusia terbentuk akibat persaingan yang terus terjadi dalam penciptaan teknologi dan keinginan untuk terus berkembang secara tidak terbatas.

Ide dan gagasan dari manusia tersebut akhirnya menimbulkan kegagalan dalam upaya integrasi manusia dan alam. Sehingga pada prakteknya, kehidupan manusia hanya dipenuhi dengan ambisi yang selalu saja haus akan objek-objek yang dapat mendatangkan kepuasan. Abad ke-21 ini banyak membuat manusia bersaing dengan sesamanya untuk mendapatkan suatu pengakuan sosial yang dianggap penting bagi dirinya. Persaingan ini kemudian menyebabkan adanya tindakan untuk menghilangkan suatu identitas manusia lainnya agar ia secara simultan dapat bersaing dengan manusia lainnya yang ada di kelompok sosialnya masing-masing.

Tidak jarang kita dapat melihat seseorang yang melakukan flexing untuk mendapatkan suatu pengakuan dan memperoleh kepuasan diri atas apa yang sudah ia peroleh dan prestasi yang dicapai. Stoikisme kemudian timbul dan kembali menjadi suatu fenomena sosial yang meluas di kalangan masyarakat. Stoikisme menjadi langkah yang digunakan oleh seseorang atau kelompok sosial untuk terlepas dari kepuasan yang tidak terbatas dan berupaya untuk mengejar kehidupan yang selaras dengan alam.

Dalam pandangan stoikisme sendiri memandang bahwa terdapat banyak kemungkinan yang terjadi kepada seseorang, dan ini menjadi titik tolak penting untuk hidup dengan sewajarnya. Ia berupaya untuk menghindari dan meminimalisir kegelisahan dalam hidup manusia dan berproses untuk mencapai suatu kebahagiaan. Kebahagian yang dimaksud adalah kebahagiaan yang berasal dari segala sesuatu yang dapat kita kendalikan, sehingga fokus manusia tidak terpaku pada hal-hal yang tidak terkendali.

Stoikisme yang baik adalah sebagai pandangan hidup untuk mencapai suatu kebahagiaan yang apa adanya dan terbatas pada konsep keterkendalian. Pandangan hidup ini terbentuk secara mendasar pada setiap manusia dan sesuai dengan kehendak manusia itu sendiri. Keterbatasan yang terjadi apabila stoikisme sebagai mode atau tren terletak pada kehendak yang tidak murni berasal pada diri manusia itu sendiri. Pengaruh lingkungan terhadap kehidupan seorang manusia adalah hal yang mutlak, namun dalam menentukan suatu mode atau tren kita cenderung akan menjadi pasif dan menerima suatu konsep apa adanya.

Menjadi Stoik

Pandangan hidup yang kita terapkan dan akan diterapkan adalah hasil dari analisis secara mandiri yang didasarkan pada identifikasi manusia itu sendiri untuk menciptakan kesesuaian konsep agar kebahagiaan yang diinginkan tercapai. Konsep mode atau tren yang sudah digeneralisir oleh sekelompok orang memiliki batasan-batasan yang tidak dapat sesuai dengan kehidupan individu lainnya untuk ia terapkan dalam hidupnya. Modifikasi dari stoikisme yang sudah ada dari hasil kelompok atau individu sebagai mode atau tren, apabila disesuikan kembali dengan pandangan individunya akan semakin keliru dan keluar dari konsep yang seharusnya ada di stoikisme.

Pandangan hidup yang merupakan dasar untuk menjalani kehidupan seseorang akan disesuaikan secara langsung dalam hidupnya dan tidak terpengaruh oleh sekelompok orang yang melakukan pengembangan perilaku kolektif. Sehingga identifikasi secara mandiri tidak memiliki batasan definisi seperti mengikut mode atau tren yang sudah terdefinisi oleh sekelompok orang.

Manusia sebagai mahluk yang bebas dan juga memiliki kemampuan terbatas untuk mengendalikan sesuatu yang hanya dapat ia kendalikan. Tidak semestinya mengadopsi stoikisme sebagai mode atau tren yang hanya bertujuan untuk mengikuti perilaku kolektif yang sedang berkembang hanya untuk sesaat.

Implementasi stoikisme sebagai pandangan hidup yang orisinil berasal dari kemampuan manusia untuk mengedalikan definisi yang ingin ia capai secara mandiri, keterbatasan kemampuan untuk mencapai definisi stoikisme yang terbentuk berdasarkan mode atau tren dapat saja keliru dan tidak sesuai dengan makna asli dari stocism. Sehingga dengan mengikuti perkembangan zaman dan budaya kolektif yang rumit, akhirnya membuat cacat konsep hidup stoikisme yang secara fundamental fokus kepada upaya praktis untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan: keutamaan dalam hidup yang disinggung oleh Plato dan dikenal sebagai Eudaimonia.

Cara penilaian seseorang bukan berdasarkan tren atau mode, namun ia harus menemukan keutamaan agar hidupnya menjadi selaras dengan alam dan tidak hanya berdasarkan kepentingan kolektif yang dapat membawa ketidakbahagiaan apabila ia tidak dapat terkendalikan.

Referensi
  • Russel, Bertrand. 2007. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar;
  • Freud, Sigmund. 2020. Civilization and Its Discontents. Yogyakarta: Immortal Publishing dan Octopus.

Baca Juga: Cinta Lama Bersemi Kembali: Simbolisasi Panta Rhei

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like