Transhumanisme dan Ideologi Kematian

Penulis: Al Nino Utomo | Bagaimana keterbatasan manusia yang tak sempurna mencoba untuk melampauinya?

Sebuah gerakan besar pernah terjadi pada abad ke-13 hingga abad ke-16 di Eropa. Dimulai dari pergerakan di bidang seni yang pada akhirnya merambah hingga ilmu pengetahuan dan teknologi. Gerakan ini dikenal dengan Renaissance. Secara singkat, Renaisans adalah sebuah upaya untuk menggulingkan otoritas gereja, dengan cara mengembalikan kebudayaan Yunani dan Romawi kuno. Upaya ini membuat ilmu-ilmu seperti filsafat, matematika, geometri, astronomi, dan banyak ilmu lain menjadi populer di Eropa. Sejak saat itulah, paradigma teosentris bergeser menjadi paradigma yang sama sekali berbeda. Paradigma itu menjadikan manusia dianggap sebagai pusat dari alam semesta. Paradigma ini dikenal dengan nama antroposentris.

Di era Renaissance, Rene Descartes adalah salah satu pemicu titik tolak yang disebutkan di atas dan sekaligus menjadi biang keladi untuk perkembangan sains dan IPTEK dengan segala sifat-sifat yang ada dalamnya. Pernyataannya yang terkenal yaitu Cogito Ergo Sum, merumuskan bahwa manusia adalah makhluk rasional yang terpisah dari realitas di sekitarnya. Aku (manusia) adalah subjek, sedangkan realitas di luar diriku adalah objek. Konsekuensi dari sifat distingtif ini adalah, bahwa manusia memiliki otoritas penuh atas realitas di sekitarnya. Dalam arti lain, manusia berkuasa atas alam semesta.

Rasionalisme Cartesian inilah yang menjadi tulang punggung dari sains. Sains yang pada dasarnya mempelajari fenomena-fenomena material di alam semesta melihat hal tersebut sebagai objek yang bisa dan harus dipahami. Sedangkan para peneliti sains adalah subjek yang mampu memahami objek-objek tersebut. Dengan memahami, maka para saintis bisa menyelidiki, menguasai, dan bahkan memanipulasi objek-objek yang ada di alam semesta. Berbagai contoh bisa disebutkan seperti mengontrol kapan sebuah pohon harus berbuah, membuat breed baru dalam dunia flora dan fauna, hingga melakukan rekayasa genetik, kloning terhadap makhluk hidup lain, atau bahkan tentang kematian manusia itu sendiri.

Selain Renaissance, perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa juga memuncak pada abad ke-18 yang dikenal dengan Abad Pencerahan atau Aufklarung. Pada masa ini, paradigma berpikir manusia pun semakin antroposentris. Pemikir-pemikir besar seperti Immanuiel Kant, Karl Marx, Friedrich Nietzsche, dan Auguste Comte mulai mempertanyakan dan mengobrak-abrik dunia agama. Kant membuat kalimat yang sangat terkenal yaitu “Sapere Aude”, Marx dengan tegas menyatakan bahwa “agama adalah candu”. Nietzsche dengan berani mengatakan bahwa manusia harus membunuh Tuhan agar menjadi ubermensch. Auguste Comte dengan positivisme menyatakan bahwa peradaban tertinggi adalah saintifik-positivistik. Dengan kata lain, bidang filsafat pun menyumbang peran yang sangat besar dalam pembentukan antroposentrisme, dengan cara menyuarakan ateisme yang bersifat antroposentris. Dengan begitu, bisa dibilang antroposentrisme adalah dinamo bagi kesombongan manusia, yang melihat bahwa kecerdasan hanyalah milik manusia dan alam semesta hanyalah objek bodoh yang perlu dicerdaskan.

Semangat Antroposentrisme, Kematian, dan Transhumanisme

Kesadaran manusia akan kematian tubuhnya banyak dibahas oleh beberapa pemikir. Sebut saja Mark Bedau yang menulis buku berjudul What is Life menyebutkan tentang The Phenoma of Life, di bagian itu dituliskan tentang kriteria potensi dari hidup yaitu, pertumbuhan dan reproduksi, kemampuan berevolusi, dan mortalitas. Dari tiga kriteria tersebut, poin ke-3 yaitu mortalitas menarik untuk dibahas, karena mortalitas adalah kondisi yang tidak bisa ditolak oleh seluruh makhluk hidup. Cukup banyak pemikiran, baik dari agama, filsafat, dan sains membahas tentang mortalitas. Mortalitas yang dimaksud adalah mengenai kesadaran bahwa semua makhluk hidup akan menuju kematian. Beberapa contoh bisa disebutkan, ajaran Samawi menganggap kematian sebagai jalan menuju keabadian, karena dunia ini adalah dunia yang fana (mortal); Buddhisme melihat kematian sebagai penderitaan; Heidegger menuliskan kalimat terkenal yaitu Sein Zum Tode, atau bergerak menuju kematian. Dalam tulisannya, Bedau mencoba untuk melihat dikotomi antara living dan non-living, garis besarnya adalah bahwa bahkan apa yang dianggap sebagai non-living sekalipun memiliki molekul-molekul yang terus bergerak. Singkatnya, Bedau ingin mengatakan bahwa tidak ada non-living, semuanya hidup, semuanya memiliki mortalitas, dan semuanya bergerak menuju kematian.

Berangkat dari berbagai macam pemikiran tersebut, terutama yang diajukan oleh Heidegger dan Bedau, dapat dilihat bagaimana seluruh kehidupan di muka bumi ini sebetulnya memiliki kesadaran akan mortalitas, dan kesadaran itu memunculkan aktus dari setiap elemen dalam kehidupan untuk terus melanjutkan kehidupannya. Aktus tersebut bisa bermacam-macam, mulai dari kegiatan biologis seperti memakan sesuatu (yang berarti kematian bagi yang lain); reproduksi seksual maupun aseksual; evolusi yang menyebabkan perubahan genetik karena kebutuhan beradaptasi dengan kondisi lingkungan; hingga hal-hal kompleks yang sejauh ini hanya dilakukan oleh manusia, seperti membuat karya-karya baik seni dan literatur yang secara tidak langsung memberikan keabadian metafisik bagi penciptanya, membangun peradaban yang menyebabkan spesies manusia menjadi puncak dari rantai makanan di muka bumi, dan upaya menciptakan transhuman yang menggabungkan manusia dengan teknologi sehingga manusia bisa bebas dari penyakit, dan bahkan kematian fisik.

Dari antroposentrisme yang menjadi hegemoni sejak era modern dan positivisme yang sangat populer di kalangan akademisi, sebuah paradigma berpikir soal manusia yang sama sekali lain mulai terbentuk. Manusia dianggap sebagai makhluk superior bila dibandingkan dengan alam semesta, dan di saat yang bersamaan direduksi menjadi sistem biologis yang semata-mata bersifat fisikal. Semangat antroposentrisme dan tendensi reduksi fisikal sains tadi dibawa salah satunya oleh Daniel Dennett. Menurut Dennett, manusia hanyalah serangkaian kinerja kimiawi dan biologis sehingga pada dasarnya manusia bisa digeser menjadi sistem yang lebih mekanistik dan komputasional, karena keduanya bekerja dengan cara yang sama. Tidak perlu pemaknaan manusia yang bersifat transendental-metafisik, atau manusia sebagai bagian dari kecerdasan besar alam semesta. Manusia adalah makhluk fisikal yang menguasai alam semesta. Berawal dari premis tersebut, kelompok positivisme modern ini merumuskan bahwa segala kinerja manusia berawal dari otak, dengan begitu, maka akhir hidup manusia, ditandai dengan kematian batang otak. Maka sebetulnya, saat otak manusia bisa dipindahkan ke dalam sebuah sistem yang lain, yang berada di luar tubuh fisik manusia, saat itulah manusia bisa menjadi abadi.

Pemikiran tentang kemampuan untuk mengalihkan kinerja otak ke sistem mekanistik ini disebut dengan istilah ‘transhumanisme’. Ide ini terdengar sangat canggih, dan sepertinya bisa menjadi solusi bagi kesadaran manusia akan keterbatasan tubuhnya. Sebuah kesadaran yang selama berabad-abad memotivasi manusia untuk melakukan berbagai upaya dalam mencapai imortalitas. Para pemikir transhumanis percaya bahwa perpaduan antara manusia dan teknologi bisa membuat tubuh manusia menjadi lebih kuat, cerdas, dan memiliki kapabilitas yang melebihi manusia saat ini. Augmentasi akan tubuh manusia juga membuat seseorang akan lebih teroptimalisasi, sekaligus termonitor.

Bukan hanya itu, argumentasi dianggap mampu untuk memberi keabadian bagi manusia. Dengan dipindahkannya sistem otak yang biologis dan kimiawi ke sistem yang mekanistik dan komputasional, maka “diri” dalam bentuk digital bisa dipanggil kembali, sekalipun secara korporeal diri itu sudah tidak ada. Pemanggilan diri itu bisa berbentuk macam-macam, mulai dari hologram hingga mungkin pemindahan “kesadaran” ke tubuh mekanistik seperti robot, seperti yang terjadi pada Anakin Skywalker di film Star Wars misalnya, setelah berduel sengit dengan Obi-Wan Kenobi di Planet Mustafar, Anakin sekarat dengan kondisi kaki dan tangan terpotong. Dengan sisa tubuh dan kesadaran yang ada, Darth Sidious menghidupkan kembali Anakin dengan bantuan sistem mekanik yang terpasang pada tubuhnya. Contoh yang lebih ekstrem lagi, masih menggunakan Star Wars sebagai referensi, para Jedi dengan kemampuan tinggi bisa menjadi force ghost setelah kematian korporealnya, dan mereka tetap bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang masih hidup, dengan kecanggihan teknologi, bukan tidak mungkin force ghost bisa diwujudkan, dengan cara yang sama persis dengan yang ditawarkan oleh Dennett, pindahkan otak ke sistem mekanistik.

Selain itu, alih-alih berpikir bahwa tubuh manusia adalah sistem kompleks yang saling bekerjasama satu dan yang lainya, para pemikir transhumanis menganggap bahwa segala kegiatan manusia berasal dari satu benda yaitu otak. Transhumanis juga percaya bahwa satu-satunya komponen penting dalam tubuh manusia adalah otaknya. Dengan otaknya manusia menciptakan peradaban yang sudah beribu-ribu tahun lamanya dan selalu mengalami perubahan. Apa bedanya dengan kelompok agama yang berpendapat bahwa sumber dari segala sesuatu adalah tuhan, atau mungkin para transhumanis ini sebetulnya adalah kelompok dogmatis yang percaya bahwa manusia adalah tuhan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi alam semesta. Dengan begitu, bisa dilihat bahwa sebetulnya baik agama maupun transhumanisme sebetulnya memiliki dasar berpikir yang sama, perbedaan hanya terletak pada objeknya. Agama berdasar pada tuhan, transhumanisme berdasar pada otak manusia. Segala macam kritik pedas kelompok transhumanisme terhadap agama yang dianggap tidak relevan bagi kehidupan manusia modern nampak seperti omong kosong.

Argumen tentang evolusi manusia yang seringkali dikaitkan dengan kelompok transhumanis juga perlu dipertanyakan ulang. Bila otak adalah pencipta dari segala bentuk peradaban manusia, maka sebetulnya mereka memiliki landasan kreasionisme, bukan evolusionisme seperti yang diyakini selama ini. Segalanya diciptakan, tidak ada yang berubah untuk mencapai sebuah posisi tertentu, dan manusialah pencipta dari segalanya.

Transhumanisme secara praksis mungkin menjadi sesuatu yang menarik bila diwujudkan dalam beberapa waktu ke depan. Tetapi landasan epistemologis dari pemikiran inilah yang perlu dipertanyakan ulang dan bahkan didekonstruksi, agar nantinya transhumanisme tidak berujung pada anti-humanisme.

Transhumanisme sebagai Dominasi Sains

Pandangan transhumanis yang menempatkan manusia sebagai titik pusat semesta, serta pandangan mengenai otak manusia sebagai titik awal dan akhir kehidupan manusia dikritik oleh banyak pihak, salah satunya adalah Steven Pinker. Dalam bukunya yang berjudul The Blank Slate: The Modern Denial of Human Nature, Pinker mengkritik secara epistemologis landasan pemikiran sains modern yaitu empirisme yang dipelopori oleh John Locke. Istilah Tabula Rasa pertama kali digunakan oleh John Locke dalam tulisan berjudul An Essay Concerning Human Understanding. Istilah itu mengacu pada pemikiran empirisme yang meilhat manusia sebagai sebuah entitas kosong yang akan diisi oleh pengalaman hidup.

Selain itu, Pinker juga mengkritik etika Romantik yang menyebutkan bahwa manusia pada dasarnya terlahir sebagai yang baik, dan lingkunganlah yang membuat manusia menjadi buruk seiring kehidupannya. Hal ini mengacu pada era romantik di mana pandangan bahwa religiusitas mengakar pada ruh manusia, dalam arti lain ada aspek ketuhanan yang embedded dalam eksistensi manusia, oleh karena itulah secara esensi, manusia adalah benevolent, karena pada era Romantik ini, tuhan mengalami perubahan wajah. Pada era sebelumnya, ornamen-ornamen seni di gereja-gereja memperlihatkan kekuasaan tuhan dengan pencitraan neraka, dengan tujuan menguasai umat dengan rasa takut. Di era Romantik, tuhan digambarkan dengan sangat ceria, ornamen penuh warna, dan memperlihatkan kemegahan.

Pinker mengkritik soal dikotomi Cartesian yang oleh Gilbert Ryle disebut sebagai “ghost in the machine”. Dikotomi ini menganggap bahwa mind terpisah dari dari tubuh. Menurut Ryle, dikotomi ini adalah kesalahan mendasar karana secara langsung berusaha menganalisa pikiran dan tubuh, seolah-olah keduanya berada pada kategori yang sama.

Melanjutkan pemikiran Ryle, Pinker melihat bahwa pemikiran ini mendominasi sains modern. Pinker bahkan menggunakan istilah dogma sains untuk tiga hal tersebut. Selanjutnya Pinker membahas tentang konsekuensi dari tiga dogma sains terhadap rasa takut manusia terhadap kehidupan sosial. Ada empat ketakutan dalam kehidupan masyarakat modern menurut Pinker. Pertama, rasa takut akan ketidaksetaraan (inequality). Rasa takut akan ketidakadilan ini muncul dari pemahaman tabula rasa, Pinker menyebutkan bahwa titik awal manusia sebagai kertas kosong membawa wacana mengenai kesetaraan yang pada dasarnya menjadi esensi manusia. Padahal menurut Pinker, kehidupan sosial dan politik sudah menjamin hak-hak dasar setiap individu.

Kedua, adalah rasa takut terhadap ketidaksempurnaan. Rasa takut ini adalah hasil dari kelindan antara dogma pertama dan kedua, karena konsep empirisme pada akhirnya mengarah pada evolusi manusia melalui lingkungan, dan evolusi selalu berkaitan dengan sifat progresif, maka ketidaksempurnaan menjadi hal yang tidak masuk akal dalam dunia sains modern dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan pengaruh dari ghost in the machine adalah bahwa bila pada dasarnya manusia itu baik, maka manusia harus baik (sempurna) pula pada akhirnya.

Ketiga, rasa takut terhadap determinisme. Rasa takut yang ketiga ini bisa dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, terutama secara genealogis terhadap kemunculan sains itu sendiri. Sains pada awalnya dianggap sebagai gebrakan kognitif yang membawa manusia terbebas dari determinisme agama. Oleh karena itu, masyarakat modern yang sudah hidup dengan sains secara mendasar, enggan untuk kembali ke masa di mana agama memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupan sosial dan politik. Meskipun sebetulnya, sains menjadi sebuah determinisme baru dalam kehidupan masyarakat modern, terutama sains yang bersifat positivistik. Ketakutan ini juga mendapat pengaruh dari dogma ketiga, dengan adanya pemahaman bahwa pikiran terpisah dari tubuh, yang membuat pikiran bisa memiliki pilihan bebas dan tidak terikat dengan tubuh, maka determinisme dianggap memenjara manusia pada umumnya.

Keempat adalah rasa takut akan nihilisme. Rasa takut yang keempat ini sebetulnya bukan hanya bentukan dari determinasi sains yang cenderung positivistik, berorientasi pada hasil, dan bersifat progresif, tetapi juga pengaruh dari kultur industri yang menuntut manusia untuk selalu produktif, dan bergerak ke satu tujuan yang bersifat material-positif. Rasa takut akan nihilisme ini rasanya merupakan kombinasi dari seluruh dogma sains dan segala macam simulasi makna yang disematkan pada kehidupan masyarakat modern seperti yang diungkapkan Jean Baudrillard dalam teorinya mengenai Simulacra.

Dalam bahasannya mengenai simulasi, Baudrillard menyebutkan bahwa masyarakat saat ini hidup dalam dunia simulasi yang berbeda dari realitas yang menyebabkan masyarakat tidak mampu membedakan antara realitas dan simulasi. Baudrillard menyebutkan ada tiga tahap simulacra. Tahap pertama adalah masyarakat pra-modern di mana citra disadari sebagai realitas palsu. Tahap kedua adalah masyarakat industri, garis batas antara citra dan realitas mulai melebur karena produksi masal dan reproduksi. Tahap ketiga adalah era postmodern di mana representasi menentukan realitas, tidak ada distingsi yang jelas antara keduanya.

Berdasarkan empat ketakutan yang disebutkan oleh Pinker, fenomena transhumanisme nampaknya sangat menjelaskan poin kedua dan keempat. Tendensi transhumanisme yang ingin memindahkan kesadaran manusia ke dalam sebuah alat mekanis menjadi bukti dasar kesadaran sekaligus ketakutan manusia atas ketidaksempurnaannya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kematian adalah salah satu hal yang selalu memotivasi manusia untuk melampauinya. Menjadi menarik sebetulnya ketika manusia dengan segala ketakutan akan ketidaksempurnaannya justru melihat ciptaannya sebagai jawaban untuk kesempurnaan. Kombinasi antara manusia dan teknologi dilihat sebagai jalan keluar yang paling ideal untuk rasa takut ini. Perlu dipertanyakan adalah apakah kombinasi ini memang betul-betul menyempurnakan manusia, atau justru malah membuat manusia kehilangan eksistensinya dan betul-betul bergantung pada teknologi?

Nihilisme selalu dianggap negatif oleh sekelompok pemikir sejak era Yunani kuno hingga modern. Sebut saja filsuf-filsuf besar yang mengarah pada nihilisme seperti Nietzsche, Albert Camus, dan bahkan pemikir kontemporer seperti Jean Baudrillard dan filsuf post-modern lainnya. Pemikiran seperti ini selalu ditakuti dan bahkan dibenci karena bertentangan dengan wacana sains yang selalu mengarah pada objektivitas, produktivitas, progresivitas, dan universalitas. Ketakutan ini juga didasari oleh dualisme Cartesian yaitu res cogitan dan res extensa yang melihat bahwa manusia adalah subjek yang mampu mengetahui segala hal tentang realitas di sekitarnya. Dengan begitu, nihilisme jadi nampak mengerdilkan manusia karena memiliki anggapan bahwa manusia tidak bisa mencapai kebenaran apa pun.

Referensi
  • Bedau, M. A. (1996). The Nature of Life. The Philosophy of Artificial Life, 332-357.
  • Dearnorn, F. (2004). Encyclopedia Of Modern French Thoughts. London : Talyor & Francis Group.
  • Descartes, R. (n.d.). Discourse on The Method.
  • Heidegger, M. (1962). Being & Time. Oxford: Blackwell Publisher.
  • Locke, J. (2004). An Essay Concerning Human Understanding. Jonathan Bennett.
  • Pinker, S. (2003). The Blank State: The Modern Denial of Human Nature. London: Penguin Books.
  • Sarup, M. (2008). Panduan Pengantar Untuk Memahami Postrukturalisme & Posmodernsime. Yogyakarta: Jalasutra.

Review image credit to: @huleeb

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like